30 Nov 2025

"Barangkali Kau Serdadu Itu"

Menceritakanmu selayaknya hujan, tiada terbilang sederas rintiknya. 
Ada harum basah yang tak tersuarakan, serupa raup rindu tak bercelah. 
Kerap kulayangkan pikir, bahwa jangan-jangan kau adalah serdadu rindu yang diam-diam menikam. 
Hampir separuh malam, kau hadiahkan berbagai bayang menghantui, kerap terusik tidurku, kerap mengganggu ayal bahwa kau ada di sebelahku. 
Mimpikah Aku? 
ya lagi-lagi kerap kumimpikan itu, di bayang tak tergapai.
Kau semu, namun namamu terpatri di alam bawah sadarku. 



 

23 Jun 2025

Dahaga Rasa di Laut Aksaraku

Sajak mana lagi yang dapat kurangkai, 

Kala lautan aksaraku tenggelam bersama redup jiwamu. 

Kita memang sepenggal kisah, namun segala yang bermakna adalah kita,

segala yang menunda luka hanyalah kita, 

kerap tertelan kecewa, namun tetap saja senyum simpul memeluk dahaga rasa. 


Kau kerap kupanggil dalam sujudku, 

tak lupa kugambar rindu di bayang riuh isi kepala serupa wajahmu

kini jejak yang kutapak sama, tak lagi terasa hangat seperti sedia kala

kini langkah yang kerap menujuku, tak lagi ngiang di telingaku. 

kau bawa pulang rinduku, hanya menyisakannya di balik tugu itu. 

ruang itu, hampa .. 

kau bawa pulang rinduku tersapu pada tupukan tanah merah itu. 


Mei 2025


14 Apr 2025

Semesta, Izinkan Kuberpeluk Senjamu yang Temaram.

Semesta, izinkan kuberpeluk senjamu yang temaram. 

tenggelamkan ragaku di temarammu yang indah. 

sebab rinduku membuncah ruah. 

Namun, aku kerap hilang arah, sebab senja diam diam menyulamkan pulang tanpa arah.


17 Feb 2025

Ingin Paling Amin Adalah Ingin Yang Tak Kuingini Bersamamu.

Dari ingin yang paling "Amin" di kepala, adalah ingin yang tak pernah lagi "Kuingin Bersamamu". 
mencumbui rindumu, menimang-nimang waktu untuk bertemu. 

sekelebat ingat bayangmu pun luka, apalagi menetapkan jiwamu di dasar rasa paling jingga. 
munafik bukan, kala dulu begitu mencinta sedang kini nyatanya benci meraja. 

Ah... luka. nampaknya kau habis telan banyak kecewa. mengenyangkan perutmu hingga muntah buncah tak di bibir saja, lalu hingga mata juga. 

Kembali teringat tentangmu saja kerap merusak banyak suka, mematikan berbagai rasa yang tumbuh menyuburkan benci yang keruh. 

Kini rasa bisa apa? sedang yang ada hanya banyak kecewa. 

Kau pasti lupa, bahkan terbahak bahak saja. 
Kau pasti suka, jika yang luka hanya aku saja. 
Kau pasti bahagia sedang yang paling rapuh hanya aku saja. 

Takkan kupulangkan rasa yang pernah ada, membiarnya kau bawa meski hanya menyisakan luka. 
rasanya saja tak lagi ingin kubawa sedang kecewanya kerap mencipta basah mata. 

Kau memang paling lihai memahat kecewa, mencipta banyak luka pada jiwa yg pernah kau sebut "Cinta". 

Bagaimana Bisa Kuhirup Kopiku Sedang Teduh Matamu Terus Memeluk Relungku

Hai, sepasang mata paling tenang, memandangimu adalah keharusan

merasuk dalam matamu adalah tujuan, terselip hangat serupa peluk tak luput genggam. 

Ah bagaimana bisa luput kenang jikalau pasang mata tenang terus menatapku, tersipu malu beradu rayu.

lewat malu terkirim rindu, memetik ragu kalau pejam mulai mengadu.


Hai sepasang mata paling tenang, bagaimana bisa kuhirup kopiku sedang matamu terus memeluk relungku

sehangat itu bukan? 

Dapatkah kuseruput kopi hangatku sedang pasang bola matamu bertengger syahdu dipinggir cangkirku.



 

Lezat Kunikmat Rayumu, Kala Rinduku Setebal Tumpukan Kamus Itu

Kunaungkan rinduku, di bawah senja yang temaram. 

memulangkan asa di peraduan. 

merela yang tak terucapkan disapu bayang bayang malam. 

Mengenalmu pernah menjadi suka paling damai, mencipta berbagai rasa yang kuteduhkan dalam ramai. 

Namun, kini asing memanjakan. mencipta luka tak tertahan mengajak rasa dalam kepergian. 

Barangkali benci beranak pinak, meminang kecewa yang ditaburkan di dermaga impian. 

Kita memang tak lihai merawat rindu, apalagi meminang temu. kita hanya pandai menyapu tangis hingga muaranya berujung tragis. 

Bukankah aku begitu terjerumus, sedang kau itu hanya rumus. 

kau bilang itu serius sedang nyatanya rasa itu kau timbun hangus. 

lezat betul kunikmat haus rayumu kala rinduku setebal kamus.

sedang tujumu seseingkat cerpen selembar dalam polio bergaris itu. 

18 Jun 2024

Harum kasihmu, Lebur Jiwaku

Kerap kuayun-ayunkan langkahku, 
kusapu jalan berdebu itu. 
ada banyak ragu pada jiwa jiwa hampa kosong tak berarti,

Kadang, kerap kucuri pandang. 
Mencari cari yang tak kutahu demi mengisi kokosongan nurani.
ada banyak mimpi teruntuk membawa diri kepada yang semestinya.
mencoba membawakan hadiah untuk sang kekasih berharap jiwa lenyap dalam jiwanya. 

Memang tak dapat semua kutahu, mencicipinya melalui laluan abadi adalah harap asaku.
mencoba melenyapkan jiwakau dan menyatukkanya pada jiwamu adalah tujuku. 
ingin hilang, kutitipkan pengharapan ini sedalam palung kasihmu. 

Meski tiada ringan aral melintang, kerap tenggelam dalam harap
akan kuleburkan jiwaku, kusembahkan untukmu dalam riuh bising kota sore itu,
ayal mengusik dalam jiwaku, kerap banyak tanya tak terjawab. 
namun nyata kuyakini, akan kau jawab satu-satu pada pandang mata berembun, pada derap langkah ragu-ragu, pada desis kantuk kemarin malam. 

Meski ayal merembah jiwa, mengusik lelap malam di ujung peraduan.
akan tetap kuyakini, kasih rasamu adalah buah rasaku. 
setulus yang kuyakini, biar dapat kuleburkan jiwaku merasuk dlaam jiwamu. 

Terimalah lebur jiwaku, dalam harum kasihmu.



Elegi Malam

Nampaknya, kita terus berpaut.
seperti nyala lilin di tengah badai
kerap berbisik melalui angin, menghempas yang tak tergapai, membawa kenang pada pengembaraan jiwa masa lalu. 

Kita terus berbisik, kala senja menanti malam.
menuangkan asa yang tak terucapkan membiar tabah di peraduan.
terkadang sesekali terbawa pulang bisik angin menyesakkan
namun, tetap hirap lirih rasaku. 

Kita terus berbisik, membayang hilang dari rinduyana yang abadi
memulangkan jejak terlupakan dari deret elegi waktu itu. 
mengusir yang melekat, merembah jiwa jiwa malam yang asing dalam lamunan.

Kita terus berbisik, sesekali lirih membiar binarasa kemarin luruh disapu angin.
menjadikan kita terus berpaut adalah alasan yang tak dapat mungkin semesta ingini
memijakkan kaki pada frasa rasa adalah yang tak lagi nyata. 
merangkainya menjadi angkala hanyalah buaian tanpa nyata. 

Kita akan terus berbisik, menggelayut dalam lara hingga tak lagi tergapai mimpi nyata. 
akan kita pulangkan saja, memisahkan yang tak seharusnya. mengembalikan yang semestinya pada ancala rindunya. 

Akan terus berbisik pada angin yang tak lagi sudi menyambanginya, akan terus menautkan rinduyana meski tak lagi sama. 
tak apa, akan datang masanya kita akan kembali membisik yang terlupakan dengan fajar kesempatan lainnya.  



17 Jun 2024

Hirap Harsa Luka-Luka

Setiap yang berlalu adalah waktu, 

memulangkan rindu adalah sendu

kembali memanja rindu adalah candu

kita terus berpaut dalam kata, cara paling syahdu ketika kita beradu rindu

mencoba menolak asa, kembali memupuk luka 

tetap saja, tetap karam dalam rasa. 


Tak benar jika rindu membawa luka, yang nyata adalah kepulanganmu yang tak nyata

kerap bertaruh kecewa, membawakan hadiah luka. 

untuk kita baik baik saja, tak punya daya.

kita terus berpaut dalam kata, mengayun-ayun duka, meraba-raba lara, dan terus mencicip kecewa. 


Terus menautkan rinduku adalah semu, layaknya hirap harsa dalam rasa. 

kita memang tak lagi baik adanya, kerap bertaruh kecewa, memulangkan asa dalam bingkis kecewa. 

Nampaknya kini luka memang nyata, mengubah yang berlalu menjadi abu. Hilang tersapu ragu dalam gemercik rindu yang tak lagi candu. 


Langit sore akhir-akhir ini mendung selalu, mengisyaratkan kisah kita yang telah usai. Di ujung jalan itu, di simpang jalan berdebu, 

Hilang! 

Kita adalah hirap harsa ragu-ragu, membawanya pulang adalah semu.

Meminta syahdu mencipta sendu. 

Hirap harsaku, datang lukaku, memupuk lukamu padaku, mengguyur syahdu rinduku dalam lirih tawamu. 



15 Jun 2024

Risak Renjana

Kiranya, memujamu adalah ayal yang takkan dapat tergapai

memulangkan asa pada luka luka tak berujung 

menyumbang banyak keliru kala rindu memuncak 

tak dapat tergapai, setinggi harap jatuh tersungkur kehadap kerap.


Ah memujamu, risak renjanaku membuncah ruah

memuakkan, mencipta benci tak berkesudah

barangkali risak kerap membawa tanya,

menbiar koma terus bergelayut menuju tanda tanya mengapa?

renjana, sudahkah kau kuberi makan dengan layak ?

sudahkah kau dapat tidur dengan nyenyak?

nyatanya kini renjana membawa luka. mencipta isak dengan bising malam membuncah


Risak itu, membawa renjana kepada luka yang tak terobati

memulangkan rindu penuh luka

membiar jarak pernah ada semakin menganga.


Renjana, ohhh renjana! 

mari pulang saja, tak layak kita beradu rindu kala asanya tak bertuju

mari lelap saja, dalam malam malam tanpa hangat rembulan

lebih arif nyatanya, jika tak lagi membawakan bunga untuk Risak Renjana. 

Mari pulang saja, akan kubawakan rasa lama yang takkan berbuah kecewa. 

akan terus menyambangimu, membawakan bunga, serta pengusir Risak malam tak berkesudah.

mari lupakan risakmu, bawa pulang asamu.

kita akan bertemu, tak hanya di ujung jalan itu

tak hanya di simpang yang menanjak

tak pula di bawah redup malam menjemukan

kita akan terus bertemu, meski renjanamu kadang mulai ayal membuncah ruah memelukmu. 

 

Candala Rasa

Samar terlihat lirih di ujung jalan itu
lekat matamu, menoleh lirih padaku
kita memisah di ujung jalan itu. 
mencipta jarak tak terlihat, membangun tembok setinggi rindu tak terukur

Kita asing, memalingkan wajah kala rinai mulai berguguran 
tak ada yang kubawa pulang selain candala rasa 
membungkusnya diam diam hingga tak terbayang 
bahwa kemarin kita pernah sama
pernah suka, dalam buai ingatan cinta

Aku, kita hanya membawa bingkisan candala rasa yang pernah ada
serendah rasa yang pernah singgah, sehambar muak lekat lekat

Sudah kusiapkan, bingkisan rindu yang terbingkis rapi dalam candala yang nantinya kau nikmati di senja atap rumahmu
memberi kenang takkan lekang, serendah asa ketika candala rasa tak lagi menjelma asa ingin jumpa. 

Kita asing, memalingkan muka dan berlalu. 
tak ada yang berlalu, selain rindu kemarin yang telah dibungkus oleh candala rasa yang pernah ada. 

Kita ingin lupa, sebab candala rasa terpatri nyata dalam jiwa. 
kita akan baik-baik saja, melupa yang ada mencipta asa baru yang tak tergapai

Kita akan terus baik baik saja, akan baik baik saja. dan akan terus baik baik saja sebab jiwa tak lagi sama. membiar tabah bergelayut memaksa lirih tetap hanyut terbuat dalam candala rasa yang tak lagi sama. 

Pulanglah, jangan datang bahkan lalui sebrang jalan itu. takkan ada yang diingini dari hal baik yang pernah ada. mencipta jarak adalah hak indah yang takkan dapat diulang.
sesekali malang, membiar rasa dimakan candala, membiar rindu ditelan candala.

Akan baik baik saja, sampai candala rasa hilang bentuk jadi lupa. 




21 Feb 2024

Bunga Angkuh Di Taman Kehidupan

Ah manusia, sesak akan kekurangan namun ringan akan kesombongan!

                                  Tak berdaya, namun angkuhnya melebihi sang pencipta! 


Ah manusia, meggaungkan kemampuan diri, terobsesi akan ilmu pengetahuan yang diakuisi, lupa berbagi, atau suka berbagi tapi dengan lakon sesuka hati. 

Ah manusia, bak bunga ujub mekar di taman kehidupan. Tumbuh tegak penuh congkak, lupa akan layu, lupa akan gerus tajam musim-musim. 

Ah, Manusia? bukankah laku baik adalah kemahiran pokok yang mendasari. Mengingatnya kembali nampaknya membuat kau semakin lupa diri. Membalutkan ilmu pengetahuan yang tinggi dengan berbagai laku sesuka hati, melibas rerumputan yang dirasa tak sama indah dengan mekar bungamu yang fana. 

Ah sudahlah percuma, sebab pengetahuanmu hanya sebatas kau mampu, bukan sebagai pengingat akan lakuanmu yang barangkali kerap tersilap dalam jengkal waktu. 

Ironi bukan, Si penumpang mekar di taman kehidupan, menyombongkan yang tak ia punya namun kerap menyilapkan laku seakan akuannya melebihi sang pemilik tamannya. 

Ironi bukan, sipaling gaungkan agamanya namun lupa akan kebaikan dasar di dalamnya. 


Dahulu, Menyambangimu Adalah Tujuanku, Namun Kini Menyambangimu Tak Lagi Menjadi Asaku.

Nampaknya sudah lama tak kusambangi gubuk itu
barangkali lapuk termakan usia, rapuh dalam ingatan
namun, lekat dalam kenangan ..

Kini menyambangimu tak lagi menjadi tujuanku, 
mengikhlaskan semua berselimutkan semak belukar
menggerogoti memori rintih yang terukir. 

Pekaranganmu yang luas, mengingatkanku betapa luas samudra rasa kala itu
menjulang tinggi, melengkung dalam sedalam palung mimpi tentang kita
tentang samudra yang tak lagi dapat terjamah logika
tentang risau temu yang tak lagi mengudara. Melebur, membiar rasa yang tak lagi sama. 

Pulanglah kita, bawa masing-masing rasa kita kepada tuan pemiliknya, memberi harap pada harap yang sudah tak lagi percaya menjadikannya akan sia sia..
pulanglah bawa rindu penyelinap, tawan mereka dalam kotak manis di ujung senja.
bungkus itu untuk kita, untuk kenang yang tak lagi ingin dikenang. 

Mari janjikan bahagia, kala rindu tak lagi sama. Entah milik siapa? entah kepada siapa?
mari rayakan sesuka kita. 
Mari janjikan bahagia, kala perpisahan adalah bunga manis yg kini sedap dipandang mata. 
Mari kembali janjikan bahagia, kala kenang tak lagi didamba damba. 
Mari jemput bahagia, tabahkan segala haus jiwa kemarin. untuk kita, untuk segala rasa yang pernah ada. 



29 Jan 2024

Selaksa Dera Luka

Dera mendera sampai luka
sampai jenggah kita menua
melambai lambai sampai jauh, sampai luka menyala
nampaknya cukup sampai sini, sampai lupa masa 

Risak terisak sampai lupa diriku
sampai hilang arah melintang malam kepergian itu 
duduk termanggu berpangku tangan sembab netra dibuatnya 
hilang sudah kembali melukis malam dalam belai rindu tak tertahankan 

Rindu, selaksa luka berbalut kecewa
sepai kenang tak terkenang hingga pedih peri menyiksa malam
sendiri, kosong tak serupa menuai rindu diam diam hingga malam kembali legam 
lupa diri, lupa masa di mana dunia tak lagi muda 

Masih beradu rindu, merambah jarak penuhi lakuna hati
harap hirap, dersik abu abu, nestapa melambai merayu rayu hingga diri hilang aku
sadrah diri tertodong malam memaksa menyerahkan segala congkak rindu 
kembalikan semua, pulangkan semua tanpa tersisa pada pemilik rindu sesungguhnya

Kini tak lagi ingin kunikmat rindu titipanmu, akan kukembalikan dengan baik
tanpa kurang sececahpun, bagaimana sudi kukembalikan tanpa ada dendam mendera
nikmatilah, sampai kau lupa atas renjana sepi. 

28 Jan 2024

Sempena Merah Jambu

Sudah kutegaskan rupanya masih saja kau tanyakan, mengagumi bukanlah perkara ringan.

Menyita banyak hal, melengkungkan tekat seluas buana. Seluas itu nyatanya! 

Menyerahlah, berdamai pada asa yang tak tergapai 

Sejauh apa kau layangkan doa doa, nyatanya hanya tersangkut di dahan pohon bungur itu.

Setiap musimnya hanya dapat menabur bunga, sebab nyatanya buah kepastian tak dapat ia tukar dengan sekadar musim hangat yang kerap ia janjikan ..

Menyerahlah, berdamailah atas atma ringkih hampir hirap dalam kenyataan.          

Ia sudah tak lagi sama, beradu kisah klasik itu tak lagi arif didendangkan

Kerap sumbang terdengar, kala senja ini merubah warna merah pekat dan tak lagi jingga seperti biasanya.. 

Pulanglah, kembalilah kepangkuanku, merebah penatmu di ujung pangkal ancala kalis rasaku.  


Menguburmu Pada Andala yang Pernah Kau Tautkan

Hari berlalu, mengiring jalan berdebu
rasa di ujung jalan itu terlalu engap kukisahkan, terlalu sesak jika harus kubagikan, 
kiranya sudah cukup sembab mataku jikalau harus kukisahkan. 
kau rasanya sudah harus kuasingkan, namun tampaknya rindu masih menguntit perlahan
nyatanya kau sudah tak lagi sama, merubah rasa dengan sederhana
dengan kembali kau temukan samudra rasa yang kini kau siggahi, 
kembali kau layarkan lakaramu bersama sosok itu, 
sosok terkasih dalam pelukan .. 

Harusnya kau begitu asing dalam ingatan, 
menguburmu pada andala yang pernah kau tautkan
harusnya aku sudah begitu asing dengan kisah klise ini 
namun nyatanya, disetiap langkah menuju jalan itu kau membayang lekat tanpa sekat

Ingin rasanya kukisahkan semuanya pada angin menderu, menyapu jejak-jejak jalan itu
biar dapat kuhapus catatan kita sore itu.


22 Mei 2023

Rindu Separuh yang Akan Kupahat Kembali Utuh

Begitu merajaikah dirimu dalam samudera rasaku, sebab kerap tak lagi kudapatkan kata serta bait yang harus kutulis dalam sajak

Ada banyak kata usang yang tak dapat kembali kuperbaharui, sebegitu melekat padamu, pada rindu yang kini kau bawa pulang

Hilang, lepas, asing, teruntuk rindu yang kau bawa pulang

Kini terasa begitu usang di pandang jarak luas membentang, begitu lekatkah rindu ini padamu, hingga lupa bagaimana bisa aku kembali tegap jikalau langkahmu pergi menjauh 

Rasanya masih membayang, sayup-sayup di kejauhan punggungmu menghilang. Bak mimpi yang tak pernah kupejamkan, begitu sesak menyeruak penuhi ruas dadaku 

Nyatanya tak ada lagi dapat diimpikan dari sekedar janji sore itu, hilang kau bawa pulang. lenyap disapu angin malam kelabu. 

Kini kau tak lagi menjadi lelaki dalam pelukan, meninggalkanku adalah keputusan terkuatmu sekaligus menyadarkanku bahwa yang diimpikan tak selamanya bisa tergapai, kembali membawa sampanku adalah keputusanku mengimbangimu. Mari kita putuskan, saling berpaling dan berjauhan. Kau dengan mimpi baru mu, sedang aku dengan rindu separuh yang akan kupahat kembali utuh. 

21 Mei 2023

Kembali Kueja Doaku Tanpa Kembali Kusematkan Namamu

Rasanya sudah hampir menyerah,

mengayunkan harap kerap menyayat-nyayat dinding pertahanan terkuatku. 

kembali mengeja kisah kita rasanya begitu memilukan, mengutuk diriku menjadi selemah ini. 

kembali melupakanmu dan hanya memenjarakanmu dalam ingatan bukanlah hal tepat yang dapat kupilih

semakin kerap kau datang, meski sekedar singgah hanya membuat luka-luka membasah ..

rasanya sudah hampir menyerah...

doa mana yang dapat kusesalkan, selagi kau masih berkutat dalam ingatan 

rasanya sudah hampir menyerah, 

mengurung luka lama dengan setangkai harap dari sekedar rasa sesal pun nampaknya hanya menyebarkan virus baru. 

kali ini, hampir dapat kuikhlaskan meski tak sepenuhnya dapat kuhapuskan

sehari, dua hari, dan seterusnya.. 

akan selalu kupastikan rasaku, lukaku, akan kukeringkan dengan caraku.. 

rasanya, kata terucap "biarkanlah kau abadi dalam lautan ingatanku" bukanlah kata tepat yang harus kueja dan kusematkan kembali untukmu. 

sebab, menjadikan kau terus berlayar dalam ingatan nampaknya semakin membuatku semakin tenggelam ke palung rindu. 

bukankah tidak adil rasanya, jika hanya aku saja !

jadi sebaiknya akan kuulang doaku tanpa mengeja kembali namamu.  

12 Apr 2023

Damai Dalam Doa

Nyatanya begini, orang baik itu tidak memandang apapun bahkan siapapun .. Di sini diperlihatkan bahwa orang orang baik akan selalu dikenang bahkan selalu terpatri di hati siapapun yg barangkali hanya sekedar sapa kecil di ujung waktu, namun begitu membekas atas sucinya kebaikan, serta lukisan indah yg diciptakan melalui keihlasan. 

Bagaimana orang lain bisa lupa, sedang lakunya adalah keiklasan, kesungguhan, serta inginnya pun melulu untuk membahagikan sekitarnya. 

Bagaimana banyak orang tak rindu, sedang lakunya adalah ketulusan dalam berbagi, tak pandang siapa untuk apanya ia .. Hanya pada ikhlas, tulus, serta sebar bahagia. 

Damai dalam doa doa ..

17 Jun 2022

Ikhlasku Barbalutkan Rindu Untukmu

Tidakkah hari ini dapat kubayangkan melepasmu adalah ikhlas paling tulus yang kulakukan

Kembali kutegakkan badanku, meluruskan pandangku.. masih kearahmu, masih tentangmu, namun dapat kupastikan ikhlasku akan menyertaimu. 

Doa kerap kukirimkan, bahkan sudah kulayangkan .. 

Sudahkah kau rasakan? ataukah hikmat kau nikmati ditiap rindu dalam aminnya?

Bilamana masih belum kau rasakan, akan kupastikan kukirimkan doa yang lebih indah lagi untukmu. 

... 

Tenanglah, rinduku beserta doa terbaikku begitu banyak untukmu seluas samudra pun takkan mampu menggambarkannya. 

Jangan takut kehabisan,

Jangan takut rinduku masih menggunung, menumpuk beraturan ingin tersampaikan padamu. 

Damailah saja di sana, lanjutkan kehidupan barumu..

Kita beriringan menyandingkan rindu bersamaan, tanpa ragu, tanpa rasa sesak menyisa di dinding-dinding hati. 

Akan terus kusampaikan, padamu ..

Padamu Kekasihku .. 

Tentang rindu serta doa yang kerap kulayangkan padamu .. 

Terus kuulang dengan hikmat serta nikmat untumu ..

Jangan ragu, akan terus kupastikan semua terjamin dengan baik, rapi dan tersusun dengan apik .. baik di hati, langit-langit senja, malam dan pagiku .. 

Kiranya, sudah kupastikan seberapa ikhlas kulukiskan semuanya,  kubalut indah dengan rinduku yang menggunung .. 

Sudah kubingkis semuanya, dengan rapi serta apik untukmu .. Kekasih.. 

Damailah, damai bawa ikhlas serta rinduku kepadanya. sampaikan pula salamku padanya. bahagilah kamu bersamanya ..  

7 Okt 2021

Semoga Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Semoga daun yang jatuh tak pernah membenci angin 

ada harap yang kerap kutawarkan, berulang kuyakinkan

daun tak pernah salah, namun ragu bertahta pada congkak dalam hati 

daun tak pernah salah, hingga angin tega menjatuhkannya dengan perlahan.

daun juga tak pernah keliru atas rasa,

mempercayakan hatinya meleyang dihempas angin 

daun tak pernah salah... hanya saja angin lupa menyinggahinya adalah keliru. 

Aku, Kita, dan Samudra Rasa

Malam ini,
Dapatkah kuukir rasa yang paling teduh?
Kembali kutautkan memori tentangmu, 
Membangun kembali 
Bayang-bayang lirih senyum di balik masa itu.
Kau nampak manis, bahkan sesekali mata sayumu memandangku
Kau nampak lembut kala senyum itu berulang kau layangkan padaku.
Masih begitu jelas bukan, 
Kau nampak tenang dalam merajai samudraku.
Lalu... 
Dapatkah kuukir rindu paling sendu 
Melebihi sendunya tatapmu.
Sebab kau adalah labuhan sarat rasaku, 
Setiap hari menyambangimu adalah harus tanpa tapi. 
Berjaga tiap malamku pun adalah baktiku, 
Seraya kutunggu lelap menjemputku. 




5 Des 2020

Hai.. Apa kabar?

Hey apa kabar? Lama tak sua senja, baikkah dirimu? Masihkah ingat denganku? Ahh.. Semoga kau selalu baik baik saja. 

Mungkin bisa kucerita sedikit tentang jeda, koma, bahkan titik yang kita pakai dalam keputusan. 

Dalam jeda, kerap kulihat bayang redup di hulu jalan itu. Apa kau masih baik saja? Nampaknya ada sayat luka dalam perih penantian, pengharapan, serta keputusan. Apa sangat terluka? Bahkan sudah kupastikan kau jawab "Iya. 

Dapat kupahami kata maaf saja tak dapat kau jadikan dasar untuk memaafkan,kiranya seisi dunia pun tak dapat kau terima sebagai gantinya. 

Senja, bagaimana aku bisa tersenyum pabila mana wujudmu tak kau lihat padaku, seperti sedia kala, seperti awal kita bersua.

Dapatkah kutebuskan salah dengan abdiku, jadikan aku serupa kau, serupa kita, serupa sama dalam doa. 

Senja, dalam titik kerap kubaca jejakmu, kuayunkan rinduku, kusematkan doaku pada jarak kota itu. Bukankah kau terlalu jauh? Ya, semenjak titik, aku tak lagi dapat mendengar gemericik tawamu, deru sedunya angin, bahkan tak lagi dapat kulihat senyummu dalam balutan merah teduh di ujung hulu jalan itu. 

Kau terlalu sukar, tak lagi dapat kubayang serupa kekasih membawakan bunga untuk sang pacar. Kau tak lagi serupa pohon merunduk untuk meneduhkan tubuh kosong, kau tak lagi serupa gusar angin yang membelai rambut, dan kau tak lagi serupa tangan manusia yang membalut tubuh mungil serta merapikan tudung di kepala.

Senja, jeda dalam koma serta titik yang tak lagi dapat kuteruskan mengeja. Maaf, ini memanglah ingin tapi tak sampai daya.. Senja, dan semoga kau selalu baik baik saja...

16 Jul 2020

Membias Tabah

Malam itu, masihlah sama bak malam malam biasanya, tak kurang rengekan jangkrik, tak kurang denting jam berbisik, tak jua kurang hening menelisik dingin mengusik.
Bukankah kisah klasik begitu asyik dengan rengek manjanya.
Melengkapkan suasana, memleburkan penat hari serta kecewa.
Kini melupa, tidurkan malam dengan keluh kesahnya, menjeritkan di balik lorong tanpa apa, tanpa kemari, tanpa ke sini teruntuk sua atas rasa yang tak terselesaikan.
Pulanglah, rangkul tubuh tua itu. Lupakan malam, biar lebur legam jiwa lelap dalam ketabahan.

12 Apr 2020

Hati yang Tak Pernah Salah

Kulihat nama cantik itu hampir mirip dengan hujan, aku kembali mengenalinya melalui masa, kata, dan ingatan.
Nama yang cantik, secantik orangnya.

Sekiranya rasa tak pernah salah menerka ingatan, meraba-raba kenangan.
Sepertinya ada yang tak selesai, lajuku, percayaku, yakinku, atasmu.
Hingga saat ini kutemukan lagi, salah kesekian yang semenjak dulu tak kau sadar.
Sepertinya kau begitu membenci, begitu memojokkan yang mana hanyalah salah yang kerap kulontarkan.
Atau kau, kerap tertawa dengan nada mengejek atas lisanku yang kerap salah bicara.
Atau kata-kata manisku yang kerap kujadikan topeng pembual menurutmu.
Ah, mari saling memutar pikir.
Cukuplah saja, dan semoga daun yang jatuh tak pernah membenci angin.


"Maaf bilamana aku menyukai hujan, sama halnya seperti kau menyukainya"

11 Apr 2020

Lelaki Penabuh Rindu

Kau seperti dendang malam penabuh rindu
Iringan musikmu
Menderu rayu
Membisik sayu
Di kidung malam penantian.
Kepiawaianmu memetikkan gitar bernada haru 
Menyelimutkan sedu pada kantuk menjemukan

Kini...
Nadamu tak lagi seirama, saat tujuan lelap di pangkumu
Sesekali kau usap keningnya
Dengan lirih bait kidungmu

10 Apr 2020

Pergi dalam Legam Ingatan


Setelah kepergianmu cahaya kecil itu memudar serta berpindah arah pada pusaramu.
Kini, tak lagi kutemukan cahaya itu pada siang, pada malam, pada pagi yang berembun.
Ia tak lagi di sini, menjauh bersamamu tepat di atas pusaramu.
Sejengahku menangisimu tak jua dapat kubagi kisah betapa lirih arti kehilangan.
Tak kupunya daya, tak kupunya rasa, semua hilang kau bawa perlahan bersama cahaya rindu keemasan di langit sana.
Rasanya aku ingin menyusulmu dengan seluruh raga milikku, tanpa jarak, tanpa sekat yang kini memisah antara rasaku, rasa kau, dan rasa kita.
Aku sudah lelah berdoa, lelah memujamu hanya dalam kata.
Aku sudah lelah menyambangimu, lelah hanya melihat nisan dingin yang tak bergeming.
aku pun sudah lelah merinduimu hanya dalam bayang-bayang, kau begitu tak nyata, ilusi rumit yang tak dapat kugapai.
Ingin kuleburkan jari-jemari hingga seluruh tubuhku, biar dapat kupautkan rinduku pada pemiliknya yang agung.

"Kau!"

"Ya, Kau Sayang!"

Berulang kali kutegaskan, Aku lelah!. aku ingin pergi menemuimu, mengisahkan sepenggal senja yang kerap kita janjikan pergi besama, berjalan santai di pinggir lingkar merah di ujung-ujung waktu penghabisan.

"Sayang, mari terimalah lebur tubuhku dan sambut rinduku dalam hangat pangkuanmu".

x

Sebuah Perjalanan



Kerap kusinggahkan sampanku, kupautkan ujungnya di bibir-bibir dermaga itu.
Dengan kerap harap, dapat kupautkan jua rinduku, bahkan janjiku. 
Namun, gelombang kerap hempas sampanku, menyapu-nyapu dindingnya dengan kegelisahan, mengoyak-koyak warnanya menjadi abu dengan batas lumut di bawahnya. 
Kerap terasa ragu menuntun gegas pulangku menuju muara sungai itu. 
Dengan ringan kulihat lembut lambai itu, ya! Dia memanggilku.
kembali Kusinggahkan sampanku pada kali kesekian dengan iring ombak sayu senja itu.
Bak mimpi, saat kembali kutambatkan sampanku dan kini membawaku pulang menuju malam paling tenang. 

"Barangkali Kau Serdadu Itu"

Menceritakanmu selayaknya hujan, tiada terbilang sederas rintiknya.  Ada harum basah yang tak tersuarakan, serupa raup rindu tak bercelah.  ...