9 Jul 2026

Part 2

Hari ini hari ke 2 setelah perpisahan itu.. 

Rasanya masih sembab saja mataku, begitu memalukan ya.. Wanita sepertiku nampaknya sangat tak cocok denganmu. 

Ya sepertinya tak ada kecocokkan itu, kenapa? 

Ya mungkin karna rasaku terlalu besar saja padamu, sampai tangisku lupa berjeda. 

Hai .. Apa kabarmu hari ini? 

Sudahkah kau sarapan makanan kesukaanmu? Sudahkah kau pergi ke kantormu? Atau kau sedang sibuk dengan tugas barumu. Ah.. Indah sekali ya harimu. 

Kenapa ya tidak dari kemarin-kemarin aku baca situasimu, padahal aku sedikit tahu bahwa sebenarnya kau keberatan atas hadirku. Meski awalnya bukan aku yang memimpikanmu. 

Hmmmm.. Tapi tak apalah ya, karna sudah seperti ini adanya, baiknya kunikmati saja perihnya. 

Oh ya, bagaimana harimu? Semesta tak menjahatimu kan? Ia terus meneduhimu bukan? Ah semoga terus seperti itu ya! 

"Boleh aku sedikit cerita? Mungkin ini tak terlalu menarik didengar telinga. Tapi tak apa jika mendengarnya pun sembari berpaling muka"

"Sayang, hari ini hari kedua perpisahan itu..  Masih terasa sulit bagiku, tapi aku berusaha sesuai kemauanmu"

Langsung saja ya .. 

Hari ini hari kesekian bermalas-malasanku, rasanya kembali bangun aku tak mampu, padahal sudah beribu caraku untuk tetap terlihat baik-baik saja. 

Akan terus kunikmati rasa yang tak pernah kuduga ini sebelumnya. Secepat ini datangnya. 

Sayang maafkan aku, jika lagi-lagi hampir aku kembali mengganggumu, tak sengaja aku membuka profilmu, melihat nomormu dan hampir saja jemariku pencet tombol telpon itu. Tak jarang aku curi curi pandang di layar hijau aplikasi itu barangkali kau mengetik ingin mengatakan sesuatu. Tapi ternyata tidak. 

Hening ... 

Teringat aku, di kedalaman mata seteduh itu ternyata membawa lara, menumpahkanya di wajahku kala terus kembali mengingatmu. 

Sayang, sudah dulu ya tak sanggup aku bercerita banyak luruh lagi tangisku kusimpan dulu wajahku sebelum esok kembali kusungging ceriaku untukmu. 

Part 1

Hari lalu berlalu, terasa asing setelah kepergian itu. Rasanya mentari tak terlalu terik bersinar, tak jua ingin luruh hujan. Seperti ragu-ragu nampaknya. 

Dari balik jendela yang usang kulihat sepasang burung kecil bertengger di pepohonan, mereka sedang beradu rayu, sedang berbisik bahwa katanya "kita adalah sepasang paling bahagia" Itu sih katanya .. Namun setelah tak lama mereka terbang saling memisah, tak lagi saling beriringan, tak jua saling berkicau berlempar rerayuan. 

Rasanya sebentar saja, hanya beberapa kali bercanda, lalu akhirnya terbang memisah tak setujuan yang sama. 

Dari Burung aku belajar, bahwa yang katanya paling bahagia, beradu rayu seindah-indahnya seolah mereka pemilik dunia namun nyatanya tak menjanjikan bahwa mereka akan selalu bersama. Bukan tak setia, tapi mungkin tujuannya tak lagi sama. 

Tak ada yang dapat disalahkan, apalagi sekadar mencari alasan. Ini kiranya sudah cara kerja semesta agar nantinya mereka memberi ajaran bahwa tak semestinya yang indah harus tetap tinggal. Barangkali perginya adalah cara semesta mengajarkan kebaikan. 

Apa setelah yang kulihat ini membuatku ikhlas? Melepas? Atau semakin membuatku sadar bahwa rasanya ingin tetap kugenggam meski yang kugenggam tak lagi ingin bertahan. 

Dari kisah Burung, ternyata cara kerja semesta tak pernah memberi aba-aba, kadang sesukanya merakit cerita tak selalu bahagia, ada lirih ada pula luka-luka. 

Sama seperti kisah kita, datang tiba-tiba pergi pun hilang seadanya. Tak banyak kata, hanya seuntai pamit samar terdengar dari sebrang sana. 

Tak adil saja rasanya, ketika perasaan datang tanpa bertanya lalu menghilang sesukanya. Ini memang biasa rupanya. Yang kutakuti datang juga, sedang kau bertepuk lega nampaknya. 

Kenapa tidak kemarin-kemarin saja, keburu-buru menyatakan suka namun sialnya aku jadi umpannya. Setelah dirasa ragu menyambar, kau lepas aku tanpa tahu seberapa lukaku lebar menganga. 

Oooo, tapi tenang saja di pengharapan selanjutnya aku tak ingin mendoa dari hal-hal menyakitimu, kudoakan saja biar semesta selalu memihakmu, meneduhimu di kejauhan, sekali menghujanimu dengan beribu kebahagiaan. Tak ingin rasanya melihatmu lara, kembali mendoakanmu adalah cara kerja cintaku paling luas melebihi semesta. 

Tak apa jika harus kupinta dunia agar mestinya kau diteduhi bahagia, bukan sekarat, bukan jua setengahnya tapi seluruhnya agar dapat terus kau sungging senyummu meski rasanya lirih batinku. 

Mencintaimu adalah keharusan, melukaimu bukanlah sebuah tujuan, sedang melihatmu bahagia adalah ingin paling Aamiin yang terus kuaamiini sampai detik ini. 



8 Jul 2026

Ingin kugambar wajahmu seluas Dunia

Ah .. Rasanya kau ngiang di pelupuk mata. Bukan aku meminta, jikapun kupinta aku tak ingin hanya bayangmu saja. 

Lagi-lagi ringan rasanya mengayun jemari menggores tinta, kutatap dalam matamu, kuraba senyummu, basah mataku dan nyatanya ayal saja. 

Kau tak tahu saja, memang aku tak pernah cerita! dari temu sesingkat ini rasanya hampir gila. Melihat semua manusia rasanya bak kau saja. Senyummu, renyah tawamu, lembut tuturmu. Ah rasanya benar gila. 

Tak apalah ya, ini kanvas milikku, ini tintaku sudah kukata jika kau istimewa akan kugambar abadi dalam aksara. 

Hari ini aku tak ingin berpura-pura, aku ingin lebih lama berayal denganmu berdua. Baiknya kurangkai saja satu demi satu membentuk kau dan lengkung senyum keteduhan. 

Sayang ... Rebah aku di pangkumu, nampak jelas senyummu sedikit kuraba lembut bibirmu. "Teduhnya matamu" Biskku lembut. 
Beruntungnya aku, 

"Sayang apa esok masih bisa bersua denganmu? Masih samakah kau? Masih samakah rasamu? Atau hanya aku .. Ah takutnya aku"

"Sayang jika di sela kosong percakapan nanti kita terdiam, dapatkah aku menanyakan pertanyaan berulang seperti : Yang, sayang apa kau menyayangiku? Lagi, lagi dan selalu kutanyakan itu. Sampai akhirnya belum sempat kutanyakan pun sudah kau jawab. Lucu ya yang ... Hee. " Indahnya kala itu. 

"Sayang, apa kau ingin tau kabarku? Oh tentu tidak lagi ya. Tak apa sayang, akan sedikit kukisahkan meski tak lagi menarik untuk kau dengar. Sayang, hari ini hari pertamaku tanpamu sayang, berat sekali rasanya. Makanan kesukaanku rasanya hambar yang, air yg kuminum rasanya pahit yang, rasanya duniaku abu-abu, samar pandangku, pusing kepalaku hampir saja di sebuah toko itu aku terjatuh. Mengemudikan motor saja hampir menabrak pohon, Tapi tak apa yang aku baik-baik saja. Sayang tahukah jika pagi yang biasanya kerap kunantikan, sejak hari itu rasanya gelap bak malam. Hening sayang, tak ada suara kecuali suara tetes air mata"

"Sayang indahkah harimu, tanpaku? Nampaknya indah ya, seindah semburat mentari di fotomu. Syukurlah sayang semesta selalu memihakmu. Semoga di sela jeda sibukmu kau sedikit mengingatku, tak apa hanya ingat saja bahwa kita pernah ada, tapi aku tak memaksamu, biar aku rayu Tuhanku biar dapat kudekap kau dalam peluk doaku."

"Sayang bolehkah kukisah lebih lama lagi? Lebih panjang lagi dari biasanya, dari waktu terburu di sela jam makan siangmu, kali ini aku ingin menahanmu, merebah di pangkumu hanya aku dan tatap teduh milikmu."

"Sayang setelah hari itu tahukah kamu seberapa egoisnya aku bolak-balik menyambangi fotomu, ingin rasanya kugambar penuh isi dunia dengan wajahmu, tapi sayangnya aku hanya punya secarik kertas kebangganku yang kemarin membelinya di toko kelontong pinggir jalan itu. Tapi jangan kecewa sayang, aku akan gambar wajahmu seindah caraku, yang kuyakini tak seoarangpun mampu gambarkan serupa gambaranku."

"Sayang, kenapa sejak hari itu senyummu berat? Kenapa suaramu tak lagi renyah di telingaku? Apa aku ngantuk hingga semua rasa memudar? Ahh barangkali aku mabuk karna semalam aku menangis sejadi-jadinya. Tak apa sayang tak apa, barangkali mataku saja bermasalah, ya ya ya sepertinya mataku bermasalah bahkan rasanya hati dan pikiranku juga terganggu. Apa sebaiknya aku ke dokter saja ya? Atau bagaimana menurutmu sayang? Sayang? Sayang? Kenapa tak ada jawaban? Apa semakin berdenging telingaku sayang? Hingga jawabanmu tak lagi terdengar olehku? Sayang kenapa sehening ini yang? Yang? Sayang? Aku tak lagi melihatmu yang? Apa kau ke belakang sayang? Atau sekadar kau angkat telpon kolegamu? Sayang? Sayang? Tak terdengar jawaban itu. Kau kemana sayang? Kenapa yg kudengar hanya tangisku yang? Kenapa sayang? Kau kemana?" Ah ... Hampir lupa jika sejauh ini aku berhayal saja. 

"Sayang, tak apa jika sejak hari itu tak lagi ingin kau dengar aku, tapi izinkan aku mengucap rasaku, padamu pada keteduhan matamu bahwa aku mencintaimu, demi sebuah rasa aku tak ingin tinggal meski hanya sekarat saja, bawa saja rasaku, kubingkis di saku bajumu agar kau mudah membawanya, lucu bukan? Aku tak pernah main-main atas rasaku apalagi untukmu" Ucapku... 

"Sayang satu hal lagi sebelum kau pergi aku bertanya, setelah ini kukemanakan rinduku? Dapatkah kau jawab itu?"

Ah sayang, kering tangisku berayal kamu... 








Mimpikah Aku?

Kali ini aku tak memaksamu untuk tetap tinggal,  apalagi sekadar merengek memksa kabar. Dengan itu bukan berarti aku melepaskanmu, mohon izinkan aku menahanmu walau hanya dalam diksiku. 

Ragamu memang tak dapat kudekap, senyummu memang tak dapat kukerat, namun kau nyata ada dalam doa. Sebelum sampai di titik ini rasanya hadirmu bak mimpi, indah sekali ... Sangat sangat indah sekali. Hampir rasanya aku lupa bangun pagi, ingin selalu memimpikanmu meski waktu terus mengajakku berkelahi. 

Aku pikir aku bisa lebih lama membersamaimu, namun nyatanya mimpi hanyalah sekadar mimpi yang keesokan paginya aku harus kembali dengan harap esoknya kembali bermimpi. 

Tak ada yang pasti memang, apalah arti dari sekadar rasa, aku tak punya apa, apalagi menjanjikanmu lebih banyak kuasa, aku hanya punya senampan rasa yang ketika memikulnya rindunya buatku tak berdaya. Aku tahu ini mimpi, sekali lagi ini hanyalah mimpi yang tak dapat kubeli. 

Terima kasih sudah pernah hadir meski dapat dikata dalam jengkal hari. Tak apa, ini cukup buatku kembali menata rasa. 

Tak apa jika harus kembali kutata ulang, kurapihkan serpihannya, kugenggam erat kecewanya, tak apa aku baik baik saja, akan lembut kutelan kecewa, tak kulibatkan sesiapa aku bisa. 

Terima kasih sudah pernah memberi rasa meski kiranya hanya sekarat saja, aku tahu tak sepenuhnya, apalagi semuanya. Tapi cukup untuk kuyakini kau ada. 

Di pertemuan secepat ini, rasanya rindunya makin berkarat, menumpahkannya aku berat. 

Aku tak ingin menyalahkan sesiapa, tak pula ingin membenci sesiapa, apalagi muak pada rasa. Dewasa saja, hadirmu adalah keistimewaan tapi kutahu aku tak berdaya. 

Hari itu, tak dapat lagi aku menahanmu apalagi sekadar memintamu untuk tetap tinggal, tak cukup dayaku, tak cukup rasaku membelimu, separuhpun tak mampu apalagi seluruhnya. 

Dunia memang tak seramah itu padaku, tapi aku tahu sekelibat hadirmu pun rasanya cukup buatku candu, entah hanya aku atau kau juga sama seeprtiku? Aku tak tahu.. Tapi sejak hari itu aku terima putusanmu, hancur padaku namun izinkan aku abadikanmu di aksaraku, menorehkan kembali rinduku, meski memlelukmu hanya bayang semu. 


26 Jun 2026

Tenggelamkan aku di jiwamu, lebur aku padamu hingga tak lagi aku menyebalkanmu

Pagi ini terik pelan menelisik hangat pada celah dinding rumah lawas itu. Secercah cahayanya begitu indah, semburatkan hangat mengenai mata. 

Kulihat luar jendela, langit membiru tak bertabur awan, hanya sedikit memudar meninggalkan jejak pelan-pelan. 

Kring ... Dering alaramku berbunyi, memastikan aku bangun tepat waktu. Namun sialnya masih saja aku bangun lebih dulu. 

Pelan kutarik gawaiku, kubuka satu-satu  jejakmu di kolom berandaku, ku lihat-lihat adakah pesan manis darimu? Atau sekedar notif hati fitur itu. 

Nampaknya tak ada, eh .. sepertinya belum ada, atau mungkin belum bisa. Ah sudahlah, sialnya lagi-lagi aku begitu menantikannya. 

Bagaimana bisa hampir penuh aku kau tarik ke duaniamu, bukan sekarat, bukan berparuh, tapi sudah tenggelam aku di dasar matamu. 

Rasanya nafasku mengecil, bukan karna tekanannya tapi sungguh karna rindunya. Ah ... Aku lagi, entah kau? Entah samakah kita? 

Kadang menatapmu ragu, bahkan juga masih keliru. Acapkali aku berpura tak apa, sungguh takut aku jika tak lagi dapat melihat, menatap dalam pasang mata kesukaanku. 

Ah lagi lagi nampaknya hanya aku? Bagaimana kau? Sepertinya hanya aku :(

Ah memang aku, jikalau perkara mencintai, menyukai, menyayangi, pasti saja gak main-main.

Tapi tak apa lah ya, jika aku masih bisa akan kupastikan rasaku bertaut padamu, mungkin sampai kau persilakan aku untuk pergi jauh meninggalkanmu. 

Ah .. tak terasa langit makin membiru, terik makin meninggi lalu aku masih membaring lesu membayang sungging senyummu. 

Sedang apa kau di sana? Baik saja bukan? Jaga sehat keselamatanmu. Aku tahu jika doaku tak lekas menembus waktu, tapi harapku semoga Tuhan mempersilakan doaku sampai padamu dan bahkan selalu doaku menyertaimu setiap hembu nafasku. 

Rasanya sungguh aku jatuh padamu, memeluk ragamu mungkin aku tak mampu namun izinkan aku memelukmu dalam doa-doaku. 

Maaf, bilamana aku terlalu kekanak-kanakan. Begitu kerap menyita waktumu, menunggu-nunggu pesan itu, bahkan terlalu menyebalkan. Bukan maksudku, tapi sungguh aku jatuh padamu, tersita seluruh aku hingga rasanya ingin kubersamamu selalu, di sepanjang waktu. 

Ahh egoisnya aku? Kekanak-kanakan pula. Hmmm.. maafkan aku. Sungguh tak sampai dayaku atas sikapku. 

Tapi asal kau tahu, rasanya ingin aku melebur habis di jiwamu. Biar tak lagi aku menyebalkanmu.  

25 Jun 2026

Kisah di sepenggal malam

Sedikit kuceritakan .. 
Dahulu aku begitu menyukai senja, melihatnya saja rasanya ingin berlama-lama. 

Tapi setelah hari itu, aku tak lagi menyukainya. Bukan karna senja mengecewakan, bukan pula karna bosan. Tapi karna kutahu di waktu senja adalah penutup perjumpaan.  

Bukan tanpa alasan, kenapa sekarang aku begitu khawatir kala senja mulai datang, bukan karna waktuku sia-sia. Tapi karna malam menelanku perlahan di kesepian. 

Bagaimana bisa raga yang begitu kantuk harus melawan bayang-bayang di kepalaku. 
Ah... Malamku terlalu lamban dan rasanya ingin bangun lebih awal. Membuka mata, mengingat-ngingat kata demi kata percakapan. Terbayang senyummu, sekelibat sungging senyumku di pekat malam. 

Bermimpikah aku? Sedang rasanya aku ingin lari ke pelukmu, membenamkan wajahku, menghirup lekat aromamu. 
aku begitu rindu ...

Bilakah siang lekas bertandang sedang malam terlalu lamban untukku dapat mengutarakan.

Jagaku bukan tanpa alasan, ini sinyal emosiku yg rasanya tak dapat kugenggam sendirian, aku perlu kau meredakan, meski sedikitnya hanya dengan sapaan.

Ah .. 
Lagi-lagi aku penuh hayalan, ingin rasanya waktu kuhabiskan hanya dengan mengingat-ngingat perjumpaan. 
Hampir lupa rasanya separuh malam telah kuhabiskan untuk berkisah bagaimana malamku sedikit ketakutan. 




24 Jun 2026

Saujanaku

Hai.. 

Di pertemuan secepat ini rasanya aku hampir lupa menamaimu. 

Bukan tentang nama unik ataupun nama- nama indah lainnya. Tapi nama kecil yang kiranya terasa begitu cocok untukmu. 

Ah barangkali akan kusemat nama kecil yang sedikit menggambarkan keteduhan matamu. 

Bagaimana kalau "Saujana" ? Mendengarnya saja sudah menenangkan bukan? 

"Saujana" kata paling tepat kiranya. Maknanya sejauh mataku dapat memandangmu namun teduhnya sungguh penuhi ruas dadaku. 

Sedikit kuceritakan, Saat pertama kali melihatmu, ada sepasang mata tulus yang tak semua orang mudah menafsirkannya. Namun bagiku, ini terlalu dalam, sedalam laut tak berbatas. 

Ingin rasanya kutenggelamkan ragaku di kedalaman matamu. Menyelaminya satu demi satu menembus ruang tak terbatas sembari membawa rindu di genggamanku. 

Aku tahu, kali ini tak ada yg dapat dijanjikan dari apapun, meski rasanya teduhmu begitu sungguh mendamaikan.

Hai Saujanaku...

Rasanya duniaku sudah hampir kau raup habis kau alihkan pada dunia megahmu. Jujur rasanya aku terlalu kecil, aku takut jika di sana hanya aku.

Menyusurinya masih terasa begitu ragu-ragu. Dapatkah sedikit kau yakinkan aku jika mengarungimu adalah bahagia? 

Aku tahu tak ada yg dapat kita janjikan dari sekadar rasa. Lagi lagi aku tahu tak ada yg dapat kita berikan kecuali rasa. Lalu pantaskah aku mengagumimu seluas rasaku? pantaskah aku jika memelukmu dalam doa doa? 

Apa kau sama sepertiku? 

Atau jangan-jangan hanya aku?

Aku yg terlalu jauh menafsirkan Rasaku?

Atau aku sudah terlalu jauh selami dasar matamu? 

 

????


 

30 Nov 2025

"Barangkali Kau Serdadu Itu"

Menceritakanmu selayaknya hujan, tiada terbilang sederas rintiknya. 
Ada harum basah yang tak tersuarakan, serupa raup rindu tak bercelah. 
Kerap kulayangkan pikir, bahwa jangan-jangan kau adalah serdadu rindu yang diam-diam menikam. 
Hampir separuh malam, kau hadiahkan berbagai bayang menghantui, kerap terusik tidurku, kerap mengganggu ayal bahwa kau ada di sebelahku. 
Mimpikah Aku? 
ya lagi-lagi kerap kumimpikan itu, di bayang tak tergapai.
Kau semu, namun namamu terpatri di alam bawah sadarku. 



 

23 Jun 2025

Dahaga Rasa di Laut Aksaraku

Sajak mana lagi yang dapat kurangkai, 

Kala lautan aksaraku tenggelam bersama redup jiwamu. 

Kita memang sepenggal kisah, namun segala yang bermakna adalah kita,

segala yang menunda luka hanyalah kita, 

kerap tertelan kecewa, namun tetap saja senyum simpul memeluk dahaga rasa. 


Kau kerap kupanggil dalam sujudku, 

tak lupa kugambar rindu di bayang riuh isi kepala serupa wajahmu

kini jejak yang kutapak sama, tak lagi terasa hangat seperti sedia kala

kini langkah yang kerap menujuku, tak lagi ngiang di telingaku. 

kau bawa pulang rinduku, hanya menyisakannya di balik tugu itu. 

ruang itu, hampa .. 

kau bawa pulang rinduku tersapu pada tupukan tanah merah itu. 


Mei 2025


14 Apr 2025

Semesta, Izinkan Kuberpeluk Senjamu yang Temaram.

Semesta, izinkan kuberpeluk senjamu yang temaram. 

tenggelamkan ragaku di temarammu yang indah. 

sebab rinduku membuncah ruah. 

Namun, aku kerap hilang arah, sebab senja diam diam menyulamkan pulang tanpa arah.


17 Feb 2025

Ingin Paling Amin Adalah Ingin Yang Tak Kuingini Bersamamu.

Dari ingin yang paling "Amin" di kepala, adalah ingin yang tak pernah lagi "Kuingin Bersamamu". 
mencumbui rindumu, menimang-nimang waktu untuk bertemu. 

sekelebat ingat bayangmu pun luka, apalagi menetapkan jiwamu di dasar rasa paling jingga. 
munafik bukan, kala dulu begitu mencinta sedang kini nyatanya benci meraja. 

Ah... luka. nampaknya kau habis telan banyak kecewa. mengenyangkan perutmu hingga muntah buncah tak di bibir saja, lalu hingga mata juga. 

Kembali teringat tentangmu saja kerap merusak banyak suka, mematikan berbagai rasa yang tumbuh menyuburkan benci yang keruh. 

Kini rasa bisa apa? sedang yang ada hanya banyak kecewa. 

Kau pasti lupa, bahkan terbahak bahak saja. 
Kau pasti suka, jika yang luka hanya aku saja. 
Kau pasti bahagia sedang yang paling rapuh hanya aku saja. 

Takkan kupulangkan rasa yang pernah ada, membiarnya kau bawa meski hanya menyisakan luka. 
rasanya saja tak lagi ingin kubawa sedang kecewanya kerap mencipta basah mata. 

Kau memang paling lihai memahat kecewa, mencipta banyak luka pada jiwa yg pernah kau sebut "Cinta". 

Bagaimana Bisa Kuhirup Kopiku Sedang Teduh Matamu Terus Memeluk Relungku

Hai, sepasang mata paling tenang, memandangimu adalah keharusan

merasuk dalam matamu adalah tujuan, terselip hangat serupa peluk tak luput genggam. 

Ah bagaimana bisa luput kenang jikalau pasang mata tenang terus menatapku, tersipu malu beradu rayu.

lewat malu terkirim rindu, memetik ragu kalau pejam mulai mengadu.


Hai sepasang mata paling tenang, bagaimana bisa kuhirup kopiku sedang matamu terus memeluk relungku

sehangat itu bukan? 

Dapatkah kuseruput kopi hangatku sedang pasang bola matamu bertengger syahdu dipinggir cangkirku.



 

Lezat Kunikmat Rayumu, Kala Rinduku Setebal Tumpukan Kamus Itu

Kunaungkan rinduku, di bawah senja yang temaram. 

memulangkan asa di peraduan. 

merela yang tak terucapkan disapu bayang bayang malam. 

Mengenalmu pernah menjadi suka paling damai, mencipta berbagai rasa yang kuteduhkan dalam ramai. 

Namun, kini asing memanjakan. mencipta luka tak tertahan mengajak rasa dalam kepergian. 

Barangkali benci beranak pinak, meminang kecewa yang ditaburkan di dermaga impian. 

Kita memang tak lihai merawat rindu, apalagi meminang temu. kita hanya pandai menyapu tangis hingga muaranya berujung tragis. 

Bukankah aku begitu terjerumus, sedang kau itu hanya rumus. 

kau bilang itu serius sedang nyatanya rasa itu kau timbun hangus. 

lezat betul kunikmat haus rayumu kala rinduku setebal kamus.

sedang tujumu seseingkat cerpen selembar dalam polio bergaris itu. 

18 Jun 2024

Harum kasihmu, Lebur Jiwaku

Kerap kuayun-ayunkan langkahku, 
kusapu jalan berdebu itu. 
ada banyak ragu pada jiwa jiwa hampa kosong tak berarti,

Kadang, kerap kucuri pandang. 
Mencari cari yang tak kutahu demi mengisi kokosongan nurani.
ada banyak mimpi teruntuk membawa diri kepada yang semestinya.
mencoba membawakan hadiah untuk sang kekasih berharap jiwa lenyap dalam jiwanya. 

Memang tak dapat semua kutahu, mencicipinya melalui laluan abadi adalah harap asaku.
mencoba melenyapkan jiwakau dan menyatukkanya pada jiwamu adalah tujuku. 
ingin hilang, kutitipkan pengharapan ini sedalam palung kasihmu. 

Meski tiada ringan aral melintang, kerap tenggelam dalam harap
akan kuleburkan jiwaku, kusembahkan untukmu dalam riuh bising kota sore itu,
ayal mengusik dalam jiwaku, kerap banyak tanya tak terjawab. 
namun nyata kuyakini, akan kau jawab satu-satu pada pandang mata berembun, pada derap langkah ragu-ragu, pada desis kantuk kemarin malam. 

Meski ayal merembah jiwa, mengusik lelap malam di ujung peraduan.
akan tetap kuyakini, kasih rasamu adalah buah rasaku. 
setulus yang kuyakini, biar dapat kuleburkan jiwaku merasuk dlaam jiwamu. 

Terimalah lebur jiwaku, dalam harum kasihmu.



Elegi Malam

Nampaknya, kita terus berpaut.
seperti nyala lilin di tengah badai
kerap berbisik melalui angin, menghempas yang tak tergapai, membawa kenang pada pengembaraan jiwa masa lalu. 

Kita terus berbisik, kala senja menanti malam.
menuangkan asa yang tak terucapkan membiar tabah di peraduan.
terkadang sesekali terbawa pulang bisik angin menyesakkan
namun, tetap hirap lirih rasaku. 

Kita terus berbisik, membayang hilang dari rinduyana yang abadi
memulangkan jejak terlupakan dari deret elegi waktu itu. 
mengusir yang melekat, merembah jiwa jiwa malam yang asing dalam lamunan.

Kita terus berbisik, sesekali lirih membiar binarasa kemarin luruh disapu angin.
menjadikan kita terus berpaut adalah alasan yang tak dapat mungkin semesta ingini
memijakkan kaki pada frasa rasa adalah yang tak lagi nyata. 
merangkainya menjadi angkala hanyalah buaian tanpa nyata. 

Kita akan terus berbisik, menggelayut dalam lara hingga tak lagi tergapai mimpi nyata. 
akan kita pulangkan saja, memisahkan yang tak seharusnya. mengembalikan yang semestinya pada ancala rindunya. 

Akan terus berbisik pada angin yang tak lagi sudi menyambanginya, akan terus menautkan rinduyana meski tak lagi sama. 
tak apa, akan datang masanya kita akan kembali membisik yang terlupakan dengan fajar kesempatan lainnya.  



17 Jun 2024

Hirap Harsa Luka-Luka

Setiap yang berlalu adalah waktu, 

memulangkan rindu adalah sendu

kembali memanja rindu adalah candu

kita terus berpaut dalam kata, cara paling syahdu ketika kita beradu rindu

mencoba menolak asa, kembali memupuk luka 

tetap saja, tetap karam dalam rasa. 


Tak benar jika rindu membawa luka, yang nyata adalah kepulanganmu yang tak nyata

kerap bertaruh kecewa, membawakan hadiah luka. 

untuk kita baik baik saja, tak punya daya.

kita terus berpaut dalam kata, mengayun-ayun duka, meraba-raba lara, dan terus mencicip kecewa. 


Terus menautkan rinduku adalah semu, layaknya hirap harsa dalam rasa. 

kita memang tak lagi baik adanya, kerap bertaruh kecewa, memulangkan asa dalam bingkis kecewa. 

Nampaknya kini luka memang nyata, mengubah yang berlalu menjadi abu. Hilang tersapu ragu dalam gemercik rindu yang tak lagi candu. 


Langit sore akhir-akhir ini mendung selalu, mengisyaratkan kisah kita yang telah usai. Di ujung jalan itu, di simpang jalan berdebu, 

Hilang! 

Kita adalah hirap harsa ragu-ragu, membawanya pulang adalah semu.

Meminta syahdu mencipta sendu. 

Hirap harsaku, datang lukaku, memupuk lukamu padaku, mengguyur syahdu rinduku dalam lirih tawamu. 



15 Jun 2024

Risak Renjana

Kiranya, memujamu adalah ayal yang takkan dapat tergapai

memulangkan asa pada luka luka tak berujung 

menyumbang banyak keliru kala rindu memuncak 

tak dapat tergapai, setinggi harap jatuh tersungkur kehadap kerap.


Ah memujamu, risak renjanaku membuncah ruah

memuakkan, mencipta benci tak berkesudah

barangkali risak kerap membawa tanya,

menbiar koma terus bergelayut menuju tanda tanya mengapa?

renjana, sudahkah kau kuberi makan dengan layak ?

sudahkah kau dapat tidur dengan nyenyak?

nyatanya kini renjana membawa luka. mencipta isak dengan bising malam membuncah


Risak itu, membawa renjana kepada luka yang tak terobati

memulangkan rindu penuh luka

membiar jarak pernah ada semakin menganga.


Renjana, ohhh renjana! 

mari pulang saja, tak layak kita beradu rindu kala asanya tak bertuju

mari lelap saja, dalam malam malam tanpa hangat rembulan

lebih arif nyatanya, jika tak lagi membawakan bunga untuk Risak Renjana. 

Mari pulang saja, akan kubawakan rasa lama yang takkan berbuah kecewa. 

akan terus menyambangimu, membawakan bunga, serta pengusir Risak malam tak berkesudah.

mari lupakan risakmu, bawa pulang asamu.

kita akan bertemu, tak hanya di ujung jalan itu

tak hanya di simpang yang menanjak

tak pula di bawah redup malam menjemukan

kita akan terus bertemu, meski renjanamu kadang mulai ayal membuncah ruah memelukmu. 

 

Candala Rasa

Samar terlihat lirih di ujung jalan itu
lekat matamu, menoleh lirih padaku
kita memisah di ujung jalan itu. 
mencipta jarak tak terlihat, membangun tembok setinggi rindu tak terukur

Kita asing, memalingkan wajah kala rinai mulai berguguran 
tak ada yang kubawa pulang selain candala rasa 
membungkusnya diam diam hingga tak terbayang 
bahwa kemarin kita pernah sama
pernah suka, dalam buai ingatan cinta

Aku, kita hanya membawa bingkisan candala rasa yang pernah ada
serendah rasa yang pernah singgah, sehambar muak lekat lekat

Sudah kusiapkan, bingkisan rindu yang terbingkis rapi dalam candala yang nantinya kau nikmati di senja atap rumahmu
memberi kenang takkan lekang, serendah asa ketika candala rasa tak lagi menjelma asa ingin jumpa. 

Kita asing, memalingkan muka dan berlalu. 
tak ada yang berlalu, selain rindu kemarin yang telah dibungkus oleh candala rasa yang pernah ada. 

Kita ingin lupa, sebab candala rasa terpatri nyata dalam jiwa. 
kita akan baik-baik saja, melupa yang ada mencipta asa baru yang tak tergapai

Kita akan terus baik baik saja, akan baik baik saja. dan akan terus baik baik saja sebab jiwa tak lagi sama. membiar tabah bergelayut memaksa lirih tetap hanyut terbuat dalam candala rasa yang tak lagi sama. 

Pulanglah, jangan datang bahkan lalui sebrang jalan itu. takkan ada yang diingini dari hal baik yang pernah ada. mencipta jarak adalah hak indah yang takkan dapat diulang.
sesekali malang, membiar rasa dimakan candala, membiar rindu ditelan candala.

Akan baik baik saja, sampai candala rasa hilang bentuk jadi lupa. 




21 Feb 2024

Bunga Angkuh Di Taman Kehidupan

Ah manusia, sesak akan kekurangan namun ringan akan kesombongan!

                                  Tak berdaya, namun angkuhnya melebihi sang pencipta! 


Ah manusia, meggaungkan kemampuan diri, terobsesi akan ilmu pengetahuan yang diakuisi, lupa berbagi, atau suka berbagi tapi dengan lakon sesuka hati. 

Ah manusia, bak bunga ujub mekar di taman kehidupan. Tumbuh tegak penuh congkak, lupa akan layu, lupa akan gerus tajam musim-musim. 

Ah, Manusia? bukankah laku baik adalah kemahiran pokok yang mendasari. Mengingatnya kembali nampaknya membuat kau semakin lupa diri. Membalutkan ilmu pengetahuan yang tinggi dengan berbagai laku sesuka hati, melibas rerumputan yang dirasa tak sama indah dengan mekar bungamu yang fana. 

Ah sudahlah percuma, sebab pengetahuanmu hanya sebatas kau mampu, bukan sebagai pengingat akan lakuanmu yang barangkali kerap tersilap dalam jengkal waktu. 

Ironi bukan, Si penumpang mekar di taman kehidupan, menyombongkan yang tak ia punya namun kerap menyilapkan laku seakan akuannya melebihi sang pemilik tamannya. 

Ironi bukan, sipaling gaungkan agamanya namun lupa akan kebaikan dasar di dalamnya. 


Dahulu, Menyambangimu Adalah Tujuanku, Namun Kini Menyambangimu Tak Lagi Menjadi Asaku.

Nampaknya sudah lama tak kusambangi gubuk itu
barangkali lapuk termakan usia, rapuh dalam ingatan
namun, lekat dalam kenangan ..

Kini menyambangimu tak lagi menjadi tujuanku, 
mengikhlaskan semua berselimutkan semak belukar
menggerogoti memori rintih yang terukir. 

Pekaranganmu yang luas, mengingatkanku betapa luas samudra rasa kala itu
menjulang tinggi, melengkung dalam sedalam palung mimpi tentang kita
tentang samudra yang tak lagi dapat terjamah logika
tentang risau temu yang tak lagi mengudara. Melebur, membiar rasa yang tak lagi sama. 

Pulanglah kita, bawa masing-masing rasa kita kepada tuan pemiliknya, memberi harap pada harap yang sudah tak lagi percaya menjadikannya akan sia sia..
pulanglah bawa rindu penyelinap, tawan mereka dalam kotak manis di ujung senja.
bungkus itu untuk kita, untuk kenang yang tak lagi ingin dikenang. 

Mari janjikan bahagia, kala rindu tak lagi sama. Entah milik siapa? entah kepada siapa?
mari rayakan sesuka kita. 
Mari janjikan bahagia, kala perpisahan adalah bunga manis yg kini sedap dipandang mata. 
Mari kembali janjikan bahagia, kala kenang tak lagi didamba damba. 
Mari jemput bahagia, tabahkan segala haus jiwa kemarin. untuk kita, untuk segala rasa yang pernah ada. 



29 Jan 2024

Selaksa Dera Luka

Dera mendera sampai luka
sampai jenggah kita menua
melambai lambai sampai jauh, sampai luka menyala
nampaknya cukup sampai sini, sampai lupa masa 

Risak terisak sampai lupa diriku
sampai hilang arah melintang malam kepergian itu 
duduk termanggu berpangku tangan sembab netra dibuatnya 
hilang sudah kembali melukis malam dalam belai rindu tak tertahankan 

Rindu, selaksa luka berbalut kecewa
sepai kenang tak terkenang hingga pedih peri menyiksa malam
sendiri, kosong tak serupa menuai rindu diam diam hingga malam kembali legam 
lupa diri, lupa masa di mana dunia tak lagi muda 

Masih beradu rindu, merambah jarak penuhi lakuna hati
harap hirap, dersik abu abu, nestapa melambai merayu rayu hingga diri hilang aku
sadrah diri tertodong malam memaksa menyerahkan segala congkak rindu 
kembalikan semua, pulangkan semua tanpa tersisa pada pemilik rindu sesungguhnya

Kini tak lagi ingin kunikmat rindu titipanmu, akan kukembalikan dengan baik
tanpa kurang sececahpun, bagaimana sudi kukembalikan tanpa ada dendam mendera
nikmatilah, sampai kau lupa atas renjana sepi. 

28 Jan 2024

Sempena Merah Jambu

Sudah kutegaskan rupanya masih saja kau tanyakan, mengagumi bukanlah perkara ringan.

Menyita banyak hal, melengkungkan tekat seluas buana. Seluas itu nyatanya! 

Menyerahlah, berdamai pada asa yang tak tergapai 

Sejauh apa kau layangkan doa doa, nyatanya hanya tersangkut di dahan pohon bungur itu.

Setiap musimnya hanya dapat menabur bunga, sebab nyatanya buah kepastian tak dapat ia tukar dengan sekadar musim hangat yang kerap ia janjikan ..

Menyerahlah, berdamailah atas atma ringkih hampir hirap dalam kenyataan.          

Ia sudah tak lagi sama, beradu kisah klasik itu tak lagi arif didendangkan

Kerap sumbang terdengar, kala senja ini merubah warna merah pekat dan tak lagi jingga seperti biasanya.. 

Pulanglah, kembalilah kepangkuanku, merebah penatmu di ujung pangkal ancala kalis rasaku.  


Menguburmu Pada Andala yang Pernah Kau Tautkan

Hari berlalu, mengiring jalan berdebu
rasa di ujung jalan itu terlalu engap kukisahkan, terlalu sesak jika harus kubagikan, 
kiranya sudah cukup sembab mataku jikalau harus kukisahkan. 
kau rasanya sudah harus kuasingkan, namun tampaknya rindu masih menguntit perlahan
nyatanya kau sudah tak lagi sama, merubah rasa dengan sederhana
dengan kembali kau temukan samudra rasa yang kini kau siggahi, 
kembali kau layarkan lakaramu bersama sosok itu, 
sosok terkasih dalam pelukan .. 

Harusnya kau begitu asing dalam ingatan, 
menguburmu pada andala yang pernah kau tautkan
harusnya aku sudah begitu asing dengan kisah klise ini 
namun nyatanya, disetiap langkah menuju jalan itu kau membayang lekat tanpa sekat

Ingin rasanya kukisahkan semuanya pada angin menderu, menyapu jejak-jejak jalan itu
biar dapat kuhapus catatan kita sore itu.


22 Mei 2023

Rindu Separuh yang Akan Kupahat Kembali Utuh

Begitu merajaikah dirimu dalam samudera rasaku, sebab kerap tak lagi kudapatkan kata serta bait yang harus kutulis dalam sajak

Ada banyak kata usang yang tak dapat kembali kuperbaharui, sebegitu melekat padamu, pada rindu yang kini kau bawa pulang

Hilang, lepas, asing, teruntuk rindu yang kau bawa pulang

Kini terasa begitu usang di pandang jarak luas membentang, begitu lekatkah rindu ini padamu, hingga lupa bagaimana bisa aku kembali tegap jikalau langkahmu pergi menjauh 

Rasanya masih membayang, sayup-sayup di kejauhan punggungmu menghilang. Bak mimpi yang tak pernah kupejamkan, begitu sesak menyeruak penuhi ruas dadaku 

Nyatanya tak ada lagi dapat diimpikan dari sekedar janji sore itu, hilang kau bawa pulang. lenyap disapu angin malam kelabu. 

Kini kau tak lagi menjadi lelaki dalam pelukan, meninggalkanku adalah keputusan terkuatmu sekaligus menyadarkanku bahwa yang diimpikan tak selamanya bisa tergapai, kembali membawa sampanku adalah keputusanku mengimbangimu. Mari kita putuskan, saling berpaling dan berjauhan. Kau dengan mimpi baru mu, sedang aku dengan rindu separuh yang akan kupahat kembali utuh. 

21 Mei 2023

Kembali Kueja Doaku Tanpa Kembali Kusematkan Namamu

Rasanya sudah hampir menyerah,

mengayunkan harap kerap menyayat-nyayat dinding pertahanan terkuatku. 

kembali mengeja kisah kita rasanya begitu memilukan, mengutuk diriku menjadi selemah ini. 

kembali melupakanmu dan hanya memenjarakanmu dalam ingatan bukanlah hal tepat yang dapat kupilih

semakin kerap kau datang, meski sekedar singgah hanya membuat luka-luka membasah ..

rasanya sudah hampir menyerah...

doa mana yang dapat kusesalkan, selagi kau masih berkutat dalam ingatan 

rasanya sudah hampir menyerah, 

mengurung luka lama dengan setangkai harap dari sekedar rasa sesal pun nampaknya hanya menyebarkan virus baru. 

kali ini, hampir dapat kuikhlaskan meski tak sepenuhnya dapat kuhapuskan

sehari, dua hari, dan seterusnya.. 

akan selalu kupastikan rasaku, lukaku, akan kukeringkan dengan caraku.. 

rasanya, kata terucap "biarkanlah kau abadi dalam lautan ingatanku" bukanlah kata tepat yang harus kueja dan kusematkan kembali untukmu. 

sebab, menjadikan kau terus berlayar dalam ingatan nampaknya semakin membuatku semakin tenggelam ke palung rindu. 

bukankah tidak adil rasanya, jika hanya aku saja !

jadi sebaiknya akan kuulang doaku tanpa mengeja kembali namamu.  

12 Apr 2023

Damai Dalam Doa

Nyatanya begini, orang baik itu tidak memandang apapun bahkan siapapun .. Di sini diperlihatkan bahwa orang orang baik akan selalu dikenang bahkan selalu terpatri di hati siapapun yg barangkali hanya sekedar sapa kecil di ujung waktu, namun begitu membekas atas sucinya kebaikan, serta lukisan indah yg diciptakan melalui keihlasan. 

Bagaimana orang lain bisa lupa, sedang lakunya adalah keiklasan, kesungguhan, serta inginnya pun melulu untuk membahagikan sekitarnya. 

Bagaimana banyak orang tak rindu, sedang lakunya adalah ketulusan dalam berbagi, tak pandang siapa untuk apanya ia .. Hanya pada ikhlas, tulus, serta sebar bahagia. 

Damai dalam doa doa ..

17 Jun 2022

Ikhlasku Barbalutkan Rindu Untukmu

Tidakkah hari ini dapat kubayangkan melepasmu adalah ikhlas paling tulus yang kulakukan

Kembali kutegakkan badanku, meluruskan pandangku.. masih kearahmu, masih tentangmu, namun dapat kupastikan ikhlasku akan menyertaimu. 

Doa kerap kukirimkan, bahkan sudah kulayangkan .. 

Sudahkah kau rasakan? ataukah hikmat kau nikmati ditiap rindu dalam aminnya?

Bilamana masih belum kau rasakan, akan kupastikan kukirimkan doa yang lebih indah lagi untukmu. 

... 

Tenanglah, rinduku beserta doa terbaikku begitu banyak untukmu seluas samudra pun takkan mampu menggambarkannya. 

Jangan takut kehabisan,

Jangan takut rinduku masih menggunung, menumpuk beraturan ingin tersampaikan padamu. 

Damailah saja di sana, lanjutkan kehidupan barumu..

Kita beriringan menyandingkan rindu bersamaan, tanpa ragu, tanpa rasa sesak menyisa di dinding-dinding hati. 

Akan terus kusampaikan, padamu ..

Padamu Kekasihku .. 

Tentang rindu serta doa yang kerap kulayangkan padamu .. 

Terus kuulang dengan hikmat serta nikmat untumu ..

Jangan ragu, akan terus kupastikan semua terjamin dengan baik, rapi dan tersusun dengan apik .. baik di hati, langit-langit senja, malam dan pagiku .. 

Kiranya, sudah kupastikan seberapa ikhlas kulukiskan semuanya,  kubalut indah dengan rinduku yang menggunung .. 

Sudah kubingkis semuanya, dengan rapi serta apik untukmu .. Kekasih.. 

Damailah, damai bawa ikhlas serta rinduku kepadanya. sampaikan pula salamku padanya. bahagilah kamu bersamanya ..  

7 Okt 2021

Semoga Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Semoga daun yang jatuh tak pernah membenci angin 

ada harap yang kerap kutawarkan, berulang kuyakinkan

daun tak pernah salah, namun ragu bertahta pada congkak dalam hati 

daun tak pernah salah, hingga angin tega menjatuhkannya dengan perlahan.

daun juga tak pernah keliru atas rasa,

mempercayakan hatinya meleyang dihempas angin 

daun tak pernah salah... hanya saja angin lupa menyinggahinya adalah keliru. 

Aku, Kita, dan Samudra Rasa

Malam ini,
Dapatkah kuukir rasa yang paling teduh?
Kembali kutautkan memori tentangmu, 
Membangun kembali 
Bayang-bayang lirih senyum di balik masa itu.
Kau nampak manis, bahkan sesekali mata sayumu memandangku
Kau nampak lembut kala senyum itu berulang kau layangkan padaku.
Masih begitu jelas bukan, 
Kau nampak tenang dalam merajai samudraku.
Lalu... 
Dapatkah kuukir rindu paling sendu 
Melebihi sendunya tatapmu.
Sebab kau adalah labuhan sarat rasaku, 
Setiap hari menyambangimu adalah harus tanpa tapi. 
Berjaga tiap malamku pun adalah baktiku, 
Seraya kutunggu lelap menjemputku. 




5 Des 2020

Hai.. Apa kabar?

Hey apa kabar? Lama tak sua senja, baikkah dirimu? Masihkah ingat denganku? Ahh.. Semoga kau selalu baik baik saja. 

Mungkin bisa kucerita sedikit tentang jeda, koma, bahkan titik yang kita pakai dalam keputusan. 

Dalam jeda, kerap kulihat bayang redup di hulu jalan itu. Apa kau masih baik saja? Nampaknya ada sayat luka dalam perih penantian, pengharapan, serta keputusan. Apa sangat terluka? Bahkan sudah kupastikan kau jawab "Iya. 

Dapat kupahami kata maaf saja tak dapat kau jadikan dasar untuk memaafkan,kiranya seisi dunia pun tak dapat kau terima sebagai gantinya. 

Senja, bagaimana aku bisa tersenyum pabila mana wujudmu tak kau lihat padaku, seperti sedia kala, seperti awal kita bersua.

Dapatkah kutebuskan salah dengan abdiku, jadikan aku serupa kau, serupa kita, serupa sama dalam doa. 

Senja, dalam titik kerap kubaca jejakmu, kuayunkan rinduku, kusematkan doaku pada jarak kota itu. Bukankah kau terlalu jauh? Ya, semenjak titik, aku tak lagi dapat mendengar gemericik tawamu, deru sedunya angin, bahkan tak lagi dapat kulihat senyummu dalam balutan merah teduh di ujung hulu jalan itu. 

Kau terlalu sukar, tak lagi dapat kubayang serupa kekasih membawakan bunga untuk sang pacar. Kau tak lagi serupa pohon merunduk untuk meneduhkan tubuh kosong, kau tak lagi serupa gusar angin yang membelai rambut, dan kau tak lagi serupa tangan manusia yang membalut tubuh mungil serta merapikan tudung di kepala.

Senja, jeda dalam koma serta titik yang tak lagi dapat kuteruskan mengeja. Maaf, ini memanglah ingin tapi tak sampai daya.. Senja, dan semoga kau selalu baik baik saja...

16 Jul 2020

Membias Tabah

Malam itu, masihlah sama bak malam malam biasanya, tak kurang rengekan jangkrik, tak kurang denting jam berbisik, tak jua kurang hening menelisik dingin mengusik.
Bukankah kisah klasik begitu asyik dengan rengek manjanya.
Melengkapkan suasana, memleburkan penat hari serta kecewa.
Kini melupa, tidurkan malam dengan keluh kesahnya, menjeritkan di balik lorong tanpa apa, tanpa kemari, tanpa ke sini teruntuk sua atas rasa yang tak terselesaikan.
Pulanglah, rangkul tubuh tua itu. Lupakan malam, biar lebur legam jiwa lelap dalam ketabahan.

12 Apr 2020

Hati yang Tak Pernah Salah

Kulihat nama cantik itu hampir mirip dengan hujan, aku kembali mengenalinya melalui masa, kata, dan ingatan.
Nama yang cantik, secantik orangnya.

Sekiranya rasa tak pernah salah menerka ingatan, meraba-raba kenangan.
Sepertinya ada yang tak selesai, lajuku, percayaku, yakinku, atasmu.
Hingga saat ini kutemukan lagi, salah kesekian yang semenjak dulu tak kau sadar.
Sepertinya kau begitu membenci, begitu memojokkan yang mana hanyalah salah yang kerap kulontarkan.
Atau kau, kerap tertawa dengan nada mengejek atas lisanku yang kerap salah bicara.
Atau kata-kata manisku yang kerap kujadikan topeng pembual menurutmu.
Ah, mari saling memutar pikir.
Cukuplah saja, dan semoga daun yang jatuh tak pernah membenci angin.


"Maaf bilamana aku menyukai hujan, sama halnya seperti kau menyukainya"

11 Apr 2020

Lelaki Penabuh Rindu

Kau seperti dendang malam penabuh rindu
Iringan musikmu
Menderu rayu
Membisik sayu
Di kidung malam penantian.
Kepiawaianmu memetikkan gitar bernada haru 
Menyelimutkan sedu pada kantuk menjemukan

Kini...
Nadamu tak lagi seirama, saat tujuan lelap di pangkumu
Sesekali kau usap keningnya
Dengan lirih bait kidungmu

10 Apr 2020

Pergi dalam Legam Ingatan


Setelah kepergianmu cahaya kecil itu memudar serta berpindah arah pada pusaramu.
Kini, tak lagi kutemukan cahaya itu pada siang, pada malam, pada pagi yang berembun.
Ia tak lagi di sini, menjauh bersamamu tepat di atas pusaramu.
Sejengahku menangisimu tak jua dapat kubagi kisah betapa lirih arti kehilangan.
Tak kupunya daya, tak kupunya rasa, semua hilang kau bawa perlahan bersama cahaya rindu keemasan di langit sana.
Rasanya aku ingin menyusulmu dengan seluruh raga milikku, tanpa jarak, tanpa sekat yang kini memisah antara rasaku, rasa kau, dan rasa kita.
Aku sudah lelah berdoa, lelah memujamu hanya dalam kata.
Aku sudah lelah menyambangimu, lelah hanya melihat nisan dingin yang tak bergeming.
aku pun sudah lelah merinduimu hanya dalam bayang-bayang, kau begitu tak nyata, ilusi rumit yang tak dapat kugapai.
Ingin kuleburkan jari-jemari hingga seluruh tubuhku, biar dapat kupautkan rinduku pada pemiliknya yang agung.

"Kau!"

"Ya, Kau Sayang!"

Berulang kali kutegaskan, Aku lelah!. aku ingin pergi menemuimu, mengisahkan sepenggal senja yang kerap kita janjikan pergi besama, berjalan santai di pinggir lingkar merah di ujung-ujung waktu penghabisan.

"Sayang, mari terimalah lebur tubuhku dan sambut rinduku dalam hangat pangkuanmu".

x

Sebuah Perjalanan



Kerap kusinggahkan sampanku, kupautkan ujungnya di bibir-bibir dermaga itu.
Dengan kerap harap, dapat kupautkan jua rinduku, bahkan janjiku. 
Namun, gelombang kerap hempas sampanku, menyapu-nyapu dindingnya dengan kegelisahan, mengoyak-koyak warnanya menjadi abu dengan batas lumut di bawahnya. 
Kerap terasa ragu menuntun gegas pulangku menuju muara sungai itu. 
Dengan ringan kulihat lembut lambai itu, ya! Dia memanggilku.
kembali Kusinggahkan sampanku pada kali kesekian dengan iring ombak sayu senja itu.
Bak mimpi, saat kembali kutambatkan sampanku dan kini membawaku pulang menuju malam paling tenang. 

Part 2

Hari ini hari ke 2 setelah perpisahan itu..  Rasanya masih sembab saja mataku, begitu memalukan ya.. Wanita sepertiku nampaknya sangat tak c...