Kunaungkan rinduku, di bawah senja yang temaram.
memulangkan asa di peraduan.
merela yang tak terucapkan disapu bayang bayang malam.
Mengenalmu pernah menjadi suka paling damai, mencipta berbagai rasa yang kuteduhkan dalam ramai.
Namun, kini asing memanjakan. mencipta luka tak tertahan mengajak rasa dalam kepergian.
Barangkali benci beranak pinak, meminang kecewa yang ditaburkan di dermaga impian.
Kita memang tak lihai merawat rindu, apalagi meminang temu. kita hanya pandai menyapu tangis hingga muaranya berujung tragis.
Bukankah aku begitu terjerumus, sedang kau itu hanya rumus.
kau bilang itu serius sedang nyatanya rasa itu kau timbun hangus.
lezat betul kunikmat haus rayumu kala rinduku setebal kamus.
sedang tujumu seseingkat cerpen selembar dalam polio bergaris itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar