Kiranya, memujamu adalah ayal yang takkan dapat tergapai
memulangkan asa pada luka luka tak berujung
menyumbang banyak keliru kala rindu memuncak
tak dapat tergapai, setinggi harap jatuh tersungkur kehadap kerap.
Ah memujamu, risak renjanaku membuncah ruah
memuakkan, mencipta benci tak berkesudah
barangkali risak kerap membawa tanya,
menbiar koma terus bergelayut menuju tanda tanya mengapa?
renjana, sudahkah kau kuberi makan dengan layak ?
sudahkah kau dapat tidur dengan nyenyak?
nyatanya kini renjana membawa luka. mencipta isak dengan bising malam membuncah
Risak itu, membawa renjana kepada luka yang tak terobati
memulangkan rindu penuh luka
membiar jarak pernah ada semakin menganga.
Renjana, ohhh renjana!
mari pulang saja, tak layak kita beradu rindu kala asanya tak bertuju
mari lelap saja, dalam malam malam tanpa hangat rembulan
lebih arif nyatanya, jika tak lagi membawakan bunga untuk Risak Renjana.
Mari pulang saja, akan kubawakan rasa lama yang takkan berbuah kecewa.
akan terus menyambangimu, membawakan bunga, serta pengusir Risak malam tak berkesudah.
mari lupakan risakmu, bawa pulang asamu.
kita akan bertemu, tak hanya di ujung jalan itu
tak hanya di simpang yang menanjak
tak pula di bawah redup malam menjemukan
kita akan terus bertemu, meski renjanamu kadang mulai ayal membuncah ruah memelukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar