Kulihat nama cantik itu hampir mirip dengan hujan, aku kembali mengenalinya melalui masa, kata, dan ingatan.
Nama yang cantik, secantik orangnya.
Sekiranya rasa tak pernah salah menerka ingatan, meraba-raba kenangan.
Sepertinya ada yang tak selesai, lajuku, percayaku, yakinku, atasmu.
Hingga saat ini kutemukan lagi, salah kesekian yang semenjak dulu tak kau sadar.
Sepertinya kau begitu membenci, begitu memojokkan yang mana hanyalah salah yang kerap kulontarkan.
Atau kau, kerap tertawa dengan nada mengejek atas lisanku yang kerap salah bicara.
Atau kata-kata manisku yang kerap kujadikan topeng pembual menurutmu.
Ah, mari saling memutar pikir.
Cukuplah saja, dan semoga daun yang jatuh tak pernah membenci angin.
"Maaf bilamana aku menyukai hujan, sama halnya seperti kau menyukainya"
12 Apr 2020
11 Apr 2020
Lelaki Penabuh Rindu
Kau seperti dendang malam penabuh rindu
Iringan musikmu
Menderu rayu
Membisik sayu
Membisik sayu
Di kidung malam penantian.
Kepiawaianmu memetikkan gitar bernada haru
Kepiawaianmu memetikkan gitar bernada haru
Menyelimutkan sedu pada kantuk menjemukan
Kini...
Nadamu tak lagi seirama, saat tujuan lelap di pangkumu
Nadamu tak lagi seirama, saat tujuan lelap di pangkumu
Sesekali kau usap keningnya
Dengan lirih bait kidungmu
10 Apr 2020
Pergi dalam Legam Ingatan
Setelah kepergianmu cahaya kecil itu memudar serta berpindah arah pada pusaramu.
Kini, tak lagi kutemukan cahaya itu pada siang, pada malam, pada pagi yang berembun.
Ia tak lagi di sini, menjauh bersamamu tepat di atas pusaramu.
Sejengahku menangisimu tak jua dapat kubagi kisah betapa lirih arti kehilangan.
Tak kupunya daya, tak kupunya rasa, semua hilang kau bawa perlahan bersama cahaya rindu keemasan di langit sana.
Rasanya aku ingin menyusulmu dengan seluruh raga milikku, tanpa jarak, tanpa sekat yang kini memisah antara rasaku, rasa kau, dan rasa kita.
Aku sudah lelah berdoa, lelah memujamu hanya dalam kata.
Aku sudah lelah menyambangimu, lelah hanya melihat nisan dingin yang tak bergeming.
aku pun sudah lelah merinduimu hanya dalam bayang-bayang, kau begitu tak nyata, ilusi rumit yang tak dapat kugapai.
Ingin kuleburkan jari-jemari hingga seluruh tubuhku, biar dapat kupautkan rinduku pada pemiliknya yang agung.
"Kau!"
"Ya, Kau Sayang!"
Berulang kali kutegaskan, Aku lelah!. aku ingin pergi menemuimu, mengisahkan sepenggal senja yang kerap kita janjikan pergi besama, berjalan santai di pinggir lingkar merah di ujung-ujung waktu penghabisan.
"Sayang, mari terimalah lebur tubuhku dan sambut rinduku dalam hangat pangkuanmu".
x
Sebuah Perjalanan
Kerap kusinggahkan sampanku, kupautkan ujungnya di bibir-bibir dermaga itu.
Dengan kerap harap, dapat kupautkan jua rinduku, bahkan janjiku.
Namun, gelombang kerap hempas sampanku, menyapu-nyapu dindingnya dengan kegelisahan, mengoyak-koyak warnanya menjadi abu dengan batas lumut di bawahnya.
Kerap terasa ragu menuntun gegas pulangku menuju muara sungai itu.
Dengan ringan kulihat lembut lambai itu, ya! Dia memanggilku.
kembali Kusinggahkan sampanku pada kali kesekian dengan iring ombak sayu senja itu.
Bak mimpi, saat kembali kutambatkan sampanku dan kini membawaku pulang menuju malam paling tenang.
Langganan:
Komentar (Atom)
"Barangkali Kau Serdadu Itu"
Menceritakanmu selayaknya hujan, tiada terbilang sederas rintiknya. Ada harum basah yang tak tersuarakan, serupa raup rindu tak bercelah. ...
-
Sudah kutegaskan rupanya masih saja kau tanyakan, mengagumi bukanlah perkara ringan. Menyita banyak hal, melengkungkan tekat seluas buana. S...
-
Hey apa kabar? Lama tak sua senja, baikkah dirimu? Masihkah ingat denganku? Ahh.. Semoga kau selalu baik baik saja. Mungkin bisa kucerita s...
-
Kerap kusinggahkan sampanku, kupautkan ujungnya di bibir-bibir dermaga itu. Dengan kerap harap, dapat kupautkan jua rinduku, bahkan janji...
-
Malam ini, Dapatkah kuukir rasa yang paling teduh? Kembali kutautkan memori tentangmu, Membangun kembali Bayang-bayang lirih senyum di bal...
-
Hari berlalu, mengiring jalan berdebu rasa di ujung jalan itu terlalu engap kukisahkan, terlalu sesak jika harus kubagikan, kiranya sudah c...
-
Begitu merajaikah dirimu dalam samudera rasaku, sebab kerap tak lagi kudapatkan kata serta bait yang harus kutulis dalam sajak Ada banyak ka...
-
Nampaknya, kita terus berpaut. seperti nyala lilin di tengah badai kerap berbisik melalui angin, menghempas yang tak tergapai, membawa kenan...
-
Kiranya, memujamu adalah ayal yang takkan dapat tergapai memulangkan asa pada luka luka tak berujung menyumbang banyak keliru kala rindu me...
-
Hai, sepasang mata paling tenang, memandangimu adalah keharusan merasuk dalam matamu adalah tujuan, terselip hangat serupa peluk tak luput g...
-
Setelah kepergianmu cahaya kecil itu memudar serta berpindah arah pada pusaramu. Kini, tak lagi kutemukan cahaya itu pada siang, pada ma...