18 Jun 2024

Elegi Malam

Nampaknya, kita terus berpaut.
seperti nyala lilin di tengah badai
kerap berbisik melalui angin, menghempas yang tak tergapai, membawa kenang pada pengembaraan jiwa masa lalu. 

Kita terus berbisik, kala senja menanti malam.
menuangkan asa yang tak terucapkan membiar tabah di peraduan.
terkadang sesekali terbawa pulang bisik angin menyesakkan
namun, tetap hirap lirih rasaku. 

Kita terus berbisik, membayang hilang dari rinduyana yang abadi
memulangkan jejak terlupakan dari deret elegi waktu itu. 
mengusir yang melekat, merembah jiwa jiwa malam yang asing dalam lamunan.

Kita terus berbisik, sesekali lirih membiar binarasa kemarin luruh disapu angin.
menjadikan kita terus berpaut adalah alasan yang tak dapat mungkin semesta ingini
memijakkan kaki pada frasa rasa adalah yang tak lagi nyata. 
merangkainya menjadi angkala hanyalah buaian tanpa nyata. 

Kita akan terus berbisik, menggelayut dalam lara hingga tak lagi tergapai mimpi nyata. 
akan kita pulangkan saja, memisahkan yang tak seharusnya. mengembalikan yang semestinya pada ancala rindunya. 

Akan terus berbisik pada angin yang tak lagi sudi menyambanginya, akan terus menautkan rinduyana meski tak lagi sama. 
tak apa, akan datang masanya kita akan kembali membisik yang terlupakan dengan fajar kesempatan lainnya.  



Tidak ada komentar:

"Barangkali Kau Serdadu Itu"

Menceritakanmu selayaknya hujan, tiada terbilang sederas rintiknya.  Ada harum basah yang tak tersuarakan, serupa raup rindu tak bercelah.  ...