Setiap yang berlalu adalah waktu,
memulangkan rindu adalah sendu
kembali memanja rindu adalah candu
kita terus berpaut dalam kata, cara paling syahdu ketika kita beradu rindu
mencoba menolak asa, kembali memupuk luka
tetap saja, tetap karam dalam rasa.
Tak benar jika rindu membawa luka, yang nyata adalah kepulanganmu yang tak nyata
kerap bertaruh kecewa, membawakan hadiah luka.
untuk kita baik baik saja, tak punya daya.
kita terus berpaut dalam kata, mengayun-ayun duka, meraba-raba lara, dan terus mencicip kecewa.
Terus menautkan rinduku adalah semu, layaknya hirap harsa dalam rasa.
kita memang tak lagi baik adanya, kerap bertaruh kecewa, memulangkan asa dalam bingkis kecewa.
Nampaknya kini luka memang nyata, mengubah yang berlalu menjadi abu. Hilang tersapu ragu dalam gemercik rindu yang tak lagi candu.
Langit sore akhir-akhir ini mendung selalu, mengisyaratkan kisah kita yang telah usai. Di ujung jalan itu, di simpang jalan berdebu,
Hilang!
Kita adalah hirap harsa ragu-ragu, membawanya pulang adalah semu.
Meminta syahdu mencipta sendu.
Hirap harsaku, datang lukaku, memupuk lukamu padaku, mengguyur syahdu rinduku dalam lirih tawamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar