18 Jun 2024
Harum kasihmu, Lebur Jiwaku
Elegi Malam
17 Jun 2024
Hirap Harsa Luka-Luka
Setiap yang berlalu adalah waktu,
memulangkan rindu adalah sendu
kembali memanja rindu adalah candu
kita terus berpaut dalam kata, cara paling syahdu ketika kita beradu rindu
mencoba menolak asa, kembali memupuk luka
tetap saja, tetap karam dalam rasa.
Tak benar jika rindu membawa luka, yang nyata adalah kepulanganmu yang tak nyata
kerap bertaruh kecewa, membawakan hadiah luka.
untuk kita baik baik saja, tak punya daya.
kita terus berpaut dalam kata, mengayun-ayun duka, meraba-raba lara, dan terus mencicip kecewa.
Terus menautkan rinduku adalah semu, layaknya hirap harsa dalam rasa.
kita memang tak lagi baik adanya, kerap bertaruh kecewa, memulangkan asa dalam bingkis kecewa.
Nampaknya kini luka memang nyata, mengubah yang berlalu menjadi abu. Hilang tersapu ragu dalam gemercik rindu yang tak lagi candu.
Langit sore akhir-akhir ini mendung selalu, mengisyaratkan kisah kita yang telah usai. Di ujung jalan itu, di simpang jalan berdebu,
Hilang!
Kita adalah hirap harsa ragu-ragu, membawanya pulang adalah semu.
Meminta syahdu mencipta sendu.
Hirap harsaku, datang lukaku, memupuk lukamu padaku, mengguyur syahdu rinduku dalam lirih tawamu.
15 Jun 2024
Risak Renjana
Kiranya, memujamu adalah ayal yang takkan dapat tergapai
memulangkan asa pada luka luka tak berujung
menyumbang banyak keliru kala rindu memuncak
tak dapat tergapai, setinggi harap jatuh tersungkur kehadap kerap.
Ah memujamu, risak renjanaku membuncah ruah
memuakkan, mencipta benci tak berkesudah
barangkali risak kerap membawa tanya,
menbiar koma terus bergelayut menuju tanda tanya mengapa?
renjana, sudahkah kau kuberi makan dengan layak ?
sudahkah kau dapat tidur dengan nyenyak?
nyatanya kini renjana membawa luka. mencipta isak dengan bising malam membuncah
Risak itu, membawa renjana kepada luka yang tak terobati
memulangkan rindu penuh luka
membiar jarak pernah ada semakin menganga.
Renjana, ohhh renjana!
mari pulang saja, tak layak kita beradu rindu kala asanya tak bertuju
mari lelap saja, dalam malam malam tanpa hangat rembulan
lebih arif nyatanya, jika tak lagi membawakan bunga untuk Risak Renjana.
Mari pulang saja, akan kubawakan rasa lama yang takkan berbuah kecewa.
akan terus menyambangimu, membawakan bunga, serta pengusir Risak malam tak berkesudah.
mari lupakan risakmu, bawa pulang asamu.
kita akan bertemu, tak hanya di ujung jalan itu
tak hanya di simpang yang menanjak
tak pula di bawah redup malam menjemukan
kita akan terus bertemu, meski renjanamu kadang mulai ayal membuncah ruah memelukmu.
Candala Rasa
21 Feb 2024
Bunga Angkuh Di Taman Kehidupan
Ah manusia, sesak akan kekurangan namun ringan akan kesombongan!
Tak berdaya, namun angkuhnya melebihi sang pencipta!
Ah manusia, meggaungkan kemampuan diri, terobsesi akan ilmu pengetahuan yang diakuisi, lupa berbagi, atau suka berbagi tapi dengan lakon sesuka hati.
Ah manusia, bak bunga ujub mekar di taman kehidupan. Tumbuh tegak penuh congkak, lupa akan layu, lupa akan gerus tajam musim-musim.
Ah, Manusia? bukankah laku baik adalah kemahiran pokok yang mendasari. Mengingatnya kembali nampaknya membuat kau semakin lupa diri. Membalutkan ilmu pengetahuan yang tinggi dengan berbagai laku sesuka hati, melibas rerumputan yang dirasa tak sama indah dengan mekar bungamu yang fana.
Ah sudahlah percuma, sebab pengetahuanmu hanya sebatas kau mampu, bukan sebagai pengingat akan lakuanmu yang barangkali kerap tersilap dalam jengkal waktu.
Ironi bukan, Si penumpang mekar di taman kehidupan, menyombongkan yang tak ia punya namun kerap menyilapkan laku seakan akuannya melebihi sang pemilik tamannya.
Ironi bukan, sipaling gaungkan agamanya namun lupa akan kebaikan dasar di dalamnya.
Dahulu, Menyambangimu Adalah Tujuanku, Namun Kini Menyambangimu Tak Lagi Menjadi Asaku.
29 Jan 2024
Selaksa Dera Luka
28 Jan 2024
Sempena Merah Jambu
Sudah kutegaskan rupanya masih saja kau tanyakan, mengagumi bukanlah perkara ringan.
Menyita banyak hal, melengkungkan tekat seluas buana. Seluas itu nyatanya!
Menyerahlah, berdamai pada asa yang tak tergapai
Sejauh apa kau layangkan doa doa, nyatanya hanya tersangkut di dahan pohon bungur itu.
Setiap musimnya hanya dapat menabur bunga, sebab nyatanya buah kepastian tak dapat ia tukar dengan sekadar musim hangat yang kerap ia janjikan ..
Menyerahlah, berdamailah atas atma ringkih hampir hirap dalam kenyataan.
Ia sudah tak lagi sama, beradu kisah klasik itu tak lagi arif didendangkan
Kerap sumbang terdengar, kala senja ini merubah warna merah pekat dan tak lagi jingga seperti biasanya..
Pulanglah, kembalilah kepangkuanku, merebah penatmu di ujung pangkal ancala kalis rasaku.
Menguburmu Pada Andala yang Pernah Kau Tautkan
"Barangkali Kau Serdadu Itu"
Menceritakanmu selayaknya hujan, tiada terbilang sederas rintiknya. Ada harum basah yang tak tersuarakan, serupa raup rindu tak bercelah. ...
-
Sudah kutegaskan rupanya masih saja kau tanyakan, mengagumi bukanlah perkara ringan. Menyita banyak hal, melengkungkan tekat seluas buana. S...
-
Hey apa kabar? Lama tak sua senja, baikkah dirimu? Masihkah ingat denganku? Ahh.. Semoga kau selalu baik baik saja. Mungkin bisa kucerita s...
-
Kerap kusinggahkan sampanku, kupautkan ujungnya di bibir-bibir dermaga itu. Dengan kerap harap, dapat kupautkan jua rinduku, bahkan janji...
-
Malam ini, Dapatkah kuukir rasa yang paling teduh? Kembali kutautkan memori tentangmu, Membangun kembali Bayang-bayang lirih senyum di bal...
-
Hari berlalu, mengiring jalan berdebu rasa di ujung jalan itu terlalu engap kukisahkan, terlalu sesak jika harus kubagikan, kiranya sudah c...
-
Begitu merajaikah dirimu dalam samudera rasaku, sebab kerap tak lagi kudapatkan kata serta bait yang harus kutulis dalam sajak Ada banyak ka...
-
Nampaknya, kita terus berpaut. seperti nyala lilin di tengah badai kerap berbisik melalui angin, menghempas yang tak tergapai, membawa kenan...
-
Kiranya, memujamu adalah ayal yang takkan dapat tergapai memulangkan asa pada luka luka tak berujung menyumbang banyak keliru kala rindu me...
-
Hai, sepasang mata paling tenang, memandangimu adalah keharusan merasuk dalam matamu adalah tujuan, terselip hangat serupa peluk tak luput g...
-
Setelah kepergianmu cahaya kecil itu memudar serta berpindah arah pada pusaramu. Kini, tak lagi kutemukan cahaya itu pada siang, pada ma...