10 Apr 2020

Sebuah Perjalanan



Kerap kusinggahkan sampanku, kupautkan ujungnya di bibir-bibir dermaga itu.
Dengan kerap harap, dapat kupautkan jua rinduku, bahkan janjiku. 
Namun, gelombang kerap hempas sampanku, menyapu-nyapu dindingnya dengan kegelisahan, mengoyak-koyak warnanya menjadi abu dengan batas lumut di bawahnya. 
Kerap terasa ragu menuntun gegas pulangku menuju muara sungai itu. 
Dengan ringan kulihat lembut lambai itu, ya! Dia memanggilku.
kembali Kusinggahkan sampanku pada kali kesekian dengan iring ombak sayu senja itu.
Bak mimpi, saat kembali kutambatkan sampanku dan kini membawaku pulang menuju malam paling tenang. 

2 komentar:

Unknown mengatakan...

mantap ani... klo dilihat tulisan ni kd telihat bahasa sungai tuannya nah.... ����

Maulida Fitriani mengatakan...

Haha. Emangnya biasanya klihatan kah bahasa sungai tuanya 🤣

"Barangkali Kau Serdadu Itu"

Menceritakanmu selayaknya hujan, tiada terbilang sederas rintiknya.  Ada harum basah yang tak tersuarakan, serupa raup rindu tak bercelah.  ...