29 Jan 2024

Selaksa Dera Luka

Dera mendera sampai luka
sampai jenggah kita menua
melambai lambai sampai jauh, sampai luka menyala
nampaknya cukup sampai sini, sampai lupa masa 

Risak terisak sampai lupa diriku
sampai hilang arah melintang malam kepergian itu 
duduk termanggu berpangku tangan sembab netra dibuatnya 
hilang sudah kembali melukis malam dalam belai rindu tak tertahankan 

Rindu, selaksa luka berbalut kecewa
sepai kenang tak terkenang hingga pedih peri menyiksa malam
sendiri, kosong tak serupa menuai rindu diam diam hingga malam kembali legam 
lupa diri, lupa masa di mana dunia tak lagi muda 

Masih beradu rindu, merambah jarak penuhi lakuna hati
harap hirap, dersik abu abu, nestapa melambai merayu rayu hingga diri hilang aku
sadrah diri tertodong malam memaksa menyerahkan segala congkak rindu 
kembalikan semua, pulangkan semua tanpa tersisa pada pemilik rindu sesungguhnya

Kini tak lagi ingin kunikmat rindu titipanmu, akan kukembalikan dengan baik
tanpa kurang sececahpun, bagaimana sudi kukembalikan tanpa ada dendam mendera
nikmatilah, sampai kau lupa atas renjana sepi. 

28 Jan 2024

Sempena Merah Jambu

Sudah kutegaskan rupanya masih saja kau tanyakan, mengagumi bukanlah perkara ringan.

Menyita banyak hal, melengkungkan tekat seluas buana. Seluas itu nyatanya! 

Menyerahlah, berdamai pada asa yang tak tergapai 

Sejauh apa kau layangkan doa doa, nyatanya hanya tersangkut di dahan pohon bungur itu.

Setiap musimnya hanya dapat menabur bunga, sebab nyatanya buah kepastian tak dapat ia tukar dengan sekadar musim hangat yang kerap ia janjikan ..

Menyerahlah, berdamailah atas atma ringkih hampir hirap dalam kenyataan.          

Ia sudah tak lagi sama, beradu kisah klasik itu tak lagi arif didendangkan

Kerap sumbang terdengar, kala senja ini merubah warna merah pekat dan tak lagi jingga seperti biasanya.. 

Pulanglah, kembalilah kepangkuanku, merebah penatmu di ujung pangkal ancala kalis rasaku.  


Menguburmu Pada Andala yang Pernah Kau Tautkan

Hari berlalu, mengiring jalan berdebu
rasa di ujung jalan itu terlalu engap kukisahkan, terlalu sesak jika harus kubagikan, 
kiranya sudah cukup sembab mataku jikalau harus kukisahkan. 
kau rasanya sudah harus kuasingkan, namun tampaknya rindu masih menguntit perlahan
nyatanya kau sudah tak lagi sama, merubah rasa dengan sederhana
dengan kembali kau temukan samudra rasa yang kini kau siggahi, 
kembali kau layarkan lakaramu bersama sosok itu, 
sosok terkasih dalam pelukan .. 

Harusnya kau begitu asing dalam ingatan, 
menguburmu pada andala yang pernah kau tautkan
harusnya aku sudah begitu asing dengan kisah klise ini 
namun nyatanya, disetiap langkah menuju jalan itu kau membayang lekat tanpa sekat

Ingin rasanya kukisahkan semuanya pada angin menderu, menyapu jejak-jejak jalan itu
biar dapat kuhapus catatan kita sore itu.


"Barangkali Kau Serdadu Itu"

Menceritakanmu selayaknya hujan, tiada terbilang sederas rintiknya.  Ada harum basah yang tak tersuarakan, serupa raup rindu tak bercelah.  ...