Hey apa kabar? Lama tak sua senja, baikkah dirimu? Masihkah ingat denganku? Ahh.. Semoga kau selalu baik baik saja.
Mungkin bisa kucerita sedikit tentang jeda, koma, bahkan titik yang kita pakai dalam keputusan.
Dalam jeda, kerap kulihat bayang redup di hulu jalan itu. Apa kau masih baik saja? Nampaknya ada sayat luka dalam perih penantian, pengharapan, serta keputusan. Apa sangat terluka? Bahkan sudah kupastikan kau jawab "Iya.
Dapat kupahami kata maaf saja tak dapat kau jadikan dasar untuk memaafkan,kiranya seisi dunia pun tak dapat kau terima sebagai gantinya.
Senja, bagaimana aku bisa tersenyum pabila mana wujudmu tak kau lihat padaku, seperti sedia kala, seperti awal kita bersua.
Dapatkah kutebuskan salah dengan abdiku, jadikan aku serupa kau, serupa kita, serupa sama dalam doa.
Senja, dalam titik kerap kubaca jejakmu, kuayunkan rinduku, kusematkan doaku pada jarak kota itu. Bukankah kau terlalu jauh? Ya, semenjak titik, aku tak lagi dapat mendengar gemericik tawamu, deru sedunya angin, bahkan tak lagi dapat kulihat senyummu dalam balutan merah teduh di ujung hulu jalan itu.
Kau terlalu sukar, tak lagi dapat kubayang serupa kekasih membawakan bunga untuk sang pacar. Kau tak lagi serupa pohon merunduk untuk meneduhkan tubuh kosong, kau tak lagi serupa gusar angin yang membelai rambut, dan kau tak lagi serupa tangan manusia yang membalut tubuh mungil serta merapikan tudung di kepala.
Senja, jeda dalam koma serta titik yang tak lagi dapat kuteruskan mengeja. Maaf, ini memanglah ingin tapi tak sampai daya.. Senja, dan semoga kau selalu baik baik saja...