18 Jun 2024

Harum kasihmu, Lebur Jiwaku

Kerap kuayun-ayunkan langkahku, 
kusapu jalan berdebu itu. 
ada banyak ragu pada jiwa jiwa hampa kosong tak berarti,

Kadang, kerap kucuri pandang. 
Mencari cari yang tak kutahu demi mengisi kokosongan nurani.
ada banyak mimpi teruntuk membawa diri kepada yang semestinya.
mencoba membawakan hadiah untuk sang kekasih berharap jiwa lenyap dalam jiwanya. 

Memang tak dapat semua kutahu, mencicipinya melalui laluan abadi adalah harap asaku.
mencoba melenyapkan jiwakau dan menyatukkanya pada jiwamu adalah tujuku. 
ingin hilang, kutitipkan pengharapan ini sedalam palung kasihmu. 

Meski tiada ringan aral melintang, kerap tenggelam dalam harap
akan kuleburkan jiwaku, kusembahkan untukmu dalam riuh bising kota sore itu,
ayal mengusik dalam jiwaku, kerap banyak tanya tak terjawab. 
namun nyata kuyakini, akan kau jawab satu-satu pada pandang mata berembun, pada derap langkah ragu-ragu, pada desis kantuk kemarin malam. 

Meski ayal merembah jiwa, mengusik lelap malam di ujung peraduan.
akan tetap kuyakini, kasih rasamu adalah buah rasaku. 
setulus yang kuyakini, biar dapat kuleburkan jiwaku merasuk dlaam jiwamu. 

Terimalah lebur jiwaku, dalam harum kasihmu.



Elegi Malam

Nampaknya, kita terus berpaut.
seperti nyala lilin di tengah badai
kerap berbisik melalui angin, menghempas yang tak tergapai, membawa kenang pada pengembaraan jiwa masa lalu. 

Kita terus berbisik, kala senja menanti malam.
menuangkan asa yang tak terucapkan membiar tabah di peraduan.
terkadang sesekali terbawa pulang bisik angin menyesakkan
namun, tetap hirap lirih rasaku. 

Kita terus berbisik, membayang hilang dari rinduyana yang abadi
memulangkan jejak terlupakan dari deret elegi waktu itu. 
mengusir yang melekat, merembah jiwa jiwa malam yang asing dalam lamunan.

Kita terus berbisik, sesekali lirih membiar binarasa kemarin luruh disapu angin.
menjadikan kita terus berpaut adalah alasan yang tak dapat mungkin semesta ingini
memijakkan kaki pada frasa rasa adalah yang tak lagi nyata. 
merangkainya menjadi angkala hanyalah buaian tanpa nyata. 

Kita akan terus berbisik, menggelayut dalam lara hingga tak lagi tergapai mimpi nyata. 
akan kita pulangkan saja, memisahkan yang tak seharusnya. mengembalikan yang semestinya pada ancala rindunya. 

Akan terus berbisik pada angin yang tak lagi sudi menyambanginya, akan terus menautkan rinduyana meski tak lagi sama. 
tak apa, akan datang masanya kita akan kembali membisik yang terlupakan dengan fajar kesempatan lainnya.  



17 Jun 2024

Hirap Harsa Luka-Luka

Setiap yang berlalu adalah waktu, 

memulangkan rindu adalah sendu

kembali memanja rindu adalah candu

kita terus berpaut dalam kata, cara paling syahdu ketika kita beradu rindu

mencoba menolak asa, kembali memupuk luka 

tetap saja, tetap karam dalam rasa. 


Tak benar jika rindu membawa luka, yang nyata adalah kepulanganmu yang tak nyata

kerap bertaruh kecewa, membawakan hadiah luka. 

untuk kita baik baik saja, tak punya daya.

kita terus berpaut dalam kata, mengayun-ayun duka, meraba-raba lara, dan terus mencicip kecewa. 


Terus menautkan rinduku adalah semu, layaknya hirap harsa dalam rasa. 

kita memang tak lagi baik adanya, kerap bertaruh kecewa, memulangkan asa dalam bingkis kecewa. 

Nampaknya kini luka memang nyata, mengubah yang berlalu menjadi abu. Hilang tersapu ragu dalam gemercik rindu yang tak lagi candu. 


Langit sore akhir-akhir ini mendung selalu, mengisyaratkan kisah kita yang telah usai. Di ujung jalan itu, di simpang jalan berdebu, 

Hilang! 

Kita adalah hirap harsa ragu-ragu, membawanya pulang adalah semu.

Meminta syahdu mencipta sendu. 

Hirap harsaku, datang lukaku, memupuk lukamu padaku, mengguyur syahdu rinduku dalam lirih tawamu. 



15 Jun 2024

Risak Renjana

Kiranya, memujamu adalah ayal yang takkan dapat tergapai

memulangkan asa pada luka luka tak berujung 

menyumbang banyak keliru kala rindu memuncak 

tak dapat tergapai, setinggi harap jatuh tersungkur kehadap kerap.


Ah memujamu, risak renjanaku membuncah ruah

memuakkan, mencipta benci tak berkesudah

barangkali risak kerap membawa tanya,

menbiar koma terus bergelayut menuju tanda tanya mengapa?

renjana, sudahkah kau kuberi makan dengan layak ?

sudahkah kau dapat tidur dengan nyenyak?

nyatanya kini renjana membawa luka. mencipta isak dengan bising malam membuncah


Risak itu, membawa renjana kepada luka yang tak terobati

memulangkan rindu penuh luka

membiar jarak pernah ada semakin menganga.


Renjana, ohhh renjana! 

mari pulang saja, tak layak kita beradu rindu kala asanya tak bertuju

mari lelap saja, dalam malam malam tanpa hangat rembulan

lebih arif nyatanya, jika tak lagi membawakan bunga untuk Risak Renjana. 

Mari pulang saja, akan kubawakan rasa lama yang takkan berbuah kecewa. 

akan terus menyambangimu, membawakan bunga, serta pengusir Risak malam tak berkesudah.

mari lupakan risakmu, bawa pulang asamu.

kita akan bertemu, tak hanya di ujung jalan itu

tak hanya di simpang yang menanjak

tak pula di bawah redup malam menjemukan

kita akan terus bertemu, meski renjanamu kadang mulai ayal membuncah ruah memelukmu. 

 

Candala Rasa

Samar terlihat lirih di ujung jalan itu
lekat matamu, menoleh lirih padaku
kita memisah di ujung jalan itu. 
mencipta jarak tak terlihat, membangun tembok setinggi rindu tak terukur

Kita asing, memalingkan wajah kala rinai mulai berguguran 
tak ada yang kubawa pulang selain candala rasa 
membungkusnya diam diam hingga tak terbayang 
bahwa kemarin kita pernah sama
pernah suka, dalam buai ingatan cinta

Aku, kita hanya membawa bingkisan candala rasa yang pernah ada
serendah rasa yang pernah singgah, sehambar muak lekat lekat

Sudah kusiapkan, bingkisan rindu yang terbingkis rapi dalam candala yang nantinya kau nikmati di senja atap rumahmu
memberi kenang takkan lekang, serendah asa ketika candala rasa tak lagi menjelma asa ingin jumpa. 

Kita asing, memalingkan muka dan berlalu. 
tak ada yang berlalu, selain rindu kemarin yang telah dibungkus oleh candala rasa yang pernah ada. 

Kita ingin lupa, sebab candala rasa terpatri nyata dalam jiwa. 
kita akan baik-baik saja, melupa yang ada mencipta asa baru yang tak tergapai

Kita akan terus baik baik saja, akan baik baik saja. dan akan terus baik baik saja sebab jiwa tak lagi sama. membiar tabah bergelayut memaksa lirih tetap hanyut terbuat dalam candala rasa yang tak lagi sama. 

Pulanglah, jangan datang bahkan lalui sebrang jalan itu. takkan ada yang diingini dari hal baik yang pernah ada. mencipta jarak adalah hak indah yang takkan dapat diulang.
sesekali malang, membiar rasa dimakan candala, membiar rindu ditelan candala.

Akan baik baik saja, sampai candala rasa hilang bentuk jadi lupa. 




"Barangkali Kau Serdadu Itu"

Menceritakanmu selayaknya hujan, tiada terbilang sederas rintiknya.  Ada harum basah yang tak tersuarakan, serupa raup rindu tak bercelah.  ...