21 Feb 2024

Bunga Angkuh Di Taman Kehidupan

Ah manusia, sesak akan kekurangan namun ringan akan kesombongan!

                                  Tak berdaya, namun angkuhnya melebihi sang pencipta! 


Ah manusia, meggaungkan kemampuan diri, terobsesi akan ilmu pengetahuan yang diakuisi, lupa berbagi, atau suka berbagi tapi dengan lakon sesuka hati. 

Ah manusia, bak bunga ujub mekar di taman kehidupan. Tumbuh tegak penuh congkak, lupa akan layu, lupa akan gerus tajam musim-musim. 

Ah, Manusia? bukankah laku baik adalah kemahiran pokok yang mendasari. Mengingatnya kembali nampaknya membuat kau semakin lupa diri. Membalutkan ilmu pengetahuan yang tinggi dengan berbagai laku sesuka hati, melibas rerumputan yang dirasa tak sama indah dengan mekar bungamu yang fana. 

Ah sudahlah percuma, sebab pengetahuanmu hanya sebatas kau mampu, bukan sebagai pengingat akan lakuanmu yang barangkali kerap tersilap dalam jengkal waktu. 

Ironi bukan, Si penumpang mekar di taman kehidupan, menyombongkan yang tak ia punya namun kerap menyilapkan laku seakan akuannya melebihi sang pemilik tamannya. 

Ironi bukan, sipaling gaungkan agamanya namun lupa akan kebaikan dasar di dalamnya. 


Dahulu, Menyambangimu Adalah Tujuanku, Namun Kini Menyambangimu Tak Lagi Menjadi Asaku.

Nampaknya sudah lama tak kusambangi gubuk itu
barangkali lapuk termakan usia, rapuh dalam ingatan
namun, lekat dalam kenangan ..

Kini menyambangimu tak lagi menjadi tujuanku, 
mengikhlaskan semua berselimutkan semak belukar
menggerogoti memori rintih yang terukir. 

Pekaranganmu yang luas, mengingatkanku betapa luas samudra rasa kala itu
menjulang tinggi, melengkung dalam sedalam palung mimpi tentang kita
tentang samudra yang tak lagi dapat terjamah logika
tentang risau temu yang tak lagi mengudara. Melebur, membiar rasa yang tak lagi sama. 

Pulanglah kita, bawa masing-masing rasa kita kepada tuan pemiliknya, memberi harap pada harap yang sudah tak lagi percaya menjadikannya akan sia sia..
pulanglah bawa rindu penyelinap, tawan mereka dalam kotak manis di ujung senja.
bungkus itu untuk kita, untuk kenang yang tak lagi ingin dikenang. 

Mari janjikan bahagia, kala rindu tak lagi sama. Entah milik siapa? entah kepada siapa?
mari rayakan sesuka kita. 
Mari janjikan bahagia, kala perpisahan adalah bunga manis yg kini sedap dipandang mata. 
Mari kembali janjikan bahagia, kala kenang tak lagi didamba damba. 
Mari jemput bahagia, tabahkan segala haus jiwa kemarin. untuk kita, untuk segala rasa yang pernah ada. 



"Barangkali Kau Serdadu Itu"

Menceritakanmu selayaknya hujan, tiada terbilang sederas rintiknya.  Ada harum basah yang tak tersuarakan, serupa raup rindu tak bercelah.  ...