30 Nov 2025
"Barangkali Kau Serdadu Itu"
23 Jun 2025
Dahaga Rasa di Laut Aksaraku
Sajak mana lagi yang dapat kurangkai,
Kala lautan aksaraku tenggelam bersama redup jiwamu.
Kita memang sepenggal kisah, namun segala yang bermakna adalah kita,
segala yang menunda luka hanyalah kita,
kerap tertelan kecewa, namun tetap saja senyum simpul memeluk dahaga rasa.
Kau kerap kupanggil dalam sujudku,
tak lupa kugambar rindu di bayang riuh isi kepala serupa wajahmu
kini jejak yang kutapak sama, tak lagi terasa hangat seperti sedia kala
kini langkah yang kerap menujuku, tak lagi ngiang di telingaku.
kau bawa pulang rinduku, hanya menyisakannya di balik tugu itu.
ruang itu, hampa ..
kau bawa pulang rinduku tersapu pada tupukan tanah merah itu.
Mei 2025
14 Apr 2025
Semesta, Izinkan Kuberpeluk Senjamu yang Temaram.
Semesta, izinkan kuberpeluk senjamu yang temaram.
tenggelamkan ragaku di temarammu yang indah.
sebab rinduku membuncah ruah.
Namun, aku kerap hilang arah, sebab senja diam diam menyulamkan pulang tanpa arah.
17 Feb 2025
Ingin Paling Amin Adalah Ingin Yang Tak Kuingini Bersamamu.
Bagaimana Bisa Kuhirup Kopiku Sedang Teduh Matamu Terus Memeluk Relungku
Hai, sepasang mata paling tenang, memandangimu adalah keharusan
merasuk dalam matamu adalah tujuan, terselip hangat serupa peluk tak luput genggam.
Ah bagaimana bisa luput kenang jikalau pasang mata tenang terus menatapku, tersipu malu beradu rayu.
lewat malu terkirim rindu, memetik ragu kalau pejam mulai mengadu.
Hai sepasang mata paling tenang, bagaimana bisa kuhirup kopiku sedang matamu terus memeluk relungku
sehangat itu bukan?
Dapatkah kuseruput kopi hangatku sedang pasang bola matamu bertengger syahdu dipinggir cangkirku.
Lezat Kunikmat Rayumu, Kala Rinduku Setebal Tumpukan Kamus Itu
Kunaungkan rinduku, di bawah senja yang temaram.
memulangkan asa di peraduan.
merela yang tak terucapkan disapu bayang bayang malam.
Mengenalmu pernah menjadi suka paling damai, mencipta berbagai rasa yang kuteduhkan dalam ramai.
Namun, kini asing memanjakan. mencipta luka tak tertahan mengajak rasa dalam kepergian.
Barangkali benci beranak pinak, meminang kecewa yang ditaburkan di dermaga impian.
Kita memang tak lihai merawat rindu, apalagi meminang temu. kita hanya pandai menyapu tangis hingga muaranya berujung tragis.
Bukankah aku begitu terjerumus, sedang kau itu hanya rumus.
kau bilang itu serius sedang nyatanya rasa itu kau timbun hangus.
lezat betul kunikmat haus rayumu kala rinduku setebal kamus.
sedang tujumu seseingkat cerpen selembar dalam polio bergaris itu.
"Barangkali Kau Serdadu Itu"
Menceritakanmu selayaknya hujan, tiada terbilang sederas rintiknya. Ada harum basah yang tak tersuarakan, serupa raup rindu tak bercelah. ...
-
Sudah kutegaskan rupanya masih saja kau tanyakan, mengagumi bukanlah perkara ringan. Menyita banyak hal, melengkungkan tekat seluas buana. S...
-
Hey apa kabar? Lama tak sua senja, baikkah dirimu? Masihkah ingat denganku? Ahh.. Semoga kau selalu baik baik saja. Mungkin bisa kucerita s...
-
Kerap kusinggahkan sampanku, kupautkan ujungnya di bibir-bibir dermaga itu. Dengan kerap harap, dapat kupautkan jua rinduku, bahkan janji...
-
Malam ini, Dapatkah kuukir rasa yang paling teduh? Kembali kutautkan memori tentangmu, Membangun kembali Bayang-bayang lirih senyum di bal...
-
Hari berlalu, mengiring jalan berdebu rasa di ujung jalan itu terlalu engap kukisahkan, terlalu sesak jika harus kubagikan, kiranya sudah c...
-
Begitu merajaikah dirimu dalam samudera rasaku, sebab kerap tak lagi kudapatkan kata serta bait yang harus kutulis dalam sajak Ada banyak ka...
-
Nampaknya, kita terus berpaut. seperti nyala lilin di tengah badai kerap berbisik melalui angin, menghempas yang tak tergapai, membawa kenan...
-
Kiranya, memujamu adalah ayal yang takkan dapat tergapai memulangkan asa pada luka luka tak berujung menyumbang banyak keliru kala rindu me...
-
Hai, sepasang mata paling tenang, memandangimu adalah keharusan merasuk dalam matamu adalah tujuan, terselip hangat serupa peluk tak luput g...
-
Setelah kepergianmu cahaya kecil itu memudar serta berpindah arah pada pusaramu. Kini, tak lagi kutemukan cahaya itu pada siang, pada ma...