17 Feb 2025

Ingin Paling Amin Adalah Ingin Yang Tak Kuingini Bersamamu.

Dari ingin yang paling "Amin" di kepala, adalah ingin yang tak pernah lagi "Kuingin Bersamamu". 
mencumbui rindumu, menimang-nimang waktu untuk bertemu. 

sekelebat ingat bayangmu pun luka, apalagi menetapkan jiwamu di dasar rasa paling jingga. 
munafik bukan, kala dulu begitu mencinta sedang kini nyatanya benci meraja. 

Ah... luka. nampaknya kau habis telan banyak kecewa. mengenyangkan perutmu hingga muntah buncah tak di bibir saja, lalu hingga mata juga. 

Kembali teringat tentangmu saja kerap merusak banyak suka, mematikan berbagai rasa yang tumbuh menyuburkan benci yang keruh. 

Kini rasa bisa apa? sedang yang ada hanya banyak kecewa. 

Kau pasti lupa, bahkan terbahak bahak saja. 
Kau pasti suka, jika yang luka hanya aku saja. 
Kau pasti bahagia sedang yang paling rapuh hanya aku saja. 

Takkan kupulangkan rasa yang pernah ada, membiarnya kau bawa meski hanya menyisakan luka. 
rasanya saja tak lagi ingin kubawa sedang kecewanya kerap mencipta basah mata. 

Kau memang paling lihai memahat kecewa, mencipta banyak luka pada jiwa yg pernah kau sebut "Cinta". 

Bagaimana Bisa Kuhirup Kopiku Sedang Teduh Matamu Terus Memeluk Relungku

Hai, sepasang mata paling tenang, memandangimu adalah keharusan

merasuk dalam matamu adalah tujuan, terselip hangat serupa peluk tak luput genggam. 

Ah bagaimana bisa luput kenang jikalau pasang mata tenang terus menatapku, tersipu malu beradu rayu.

lewat malu terkirim rindu, memetik ragu kalau pejam mulai mengadu.


Hai sepasang mata paling tenang, bagaimana bisa kuhirup kopiku sedang matamu terus memeluk relungku

sehangat itu bukan? 

Dapatkah kuseruput kopi hangatku sedang pasang bola matamu bertengger syahdu dipinggir cangkirku.



 

Lezat Kunikmat Rayumu, Kala Rinduku Setebal Tumpukan Kamus Itu

Kunaungkan rinduku, di bawah senja yang temaram. 

memulangkan asa di peraduan. 

merela yang tak terucapkan disapu bayang bayang malam. 

Mengenalmu pernah menjadi suka paling damai, mencipta berbagai rasa yang kuteduhkan dalam ramai. 

Namun, kini asing memanjakan. mencipta luka tak tertahan mengajak rasa dalam kepergian. 

Barangkali benci beranak pinak, meminang kecewa yang ditaburkan di dermaga impian. 

Kita memang tak lihai merawat rindu, apalagi meminang temu. kita hanya pandai menyapu tangis hingga muaranya berujung tragis. 

Bukankah aku begitu terjerumus, sedang kau itu hanya rumus. 

kau bilang itu serius sedang nyatanya rasa itu kau timbun hangus. 

lezat betul kunikmat haus rayumu kala rinduku setebal kamus.

sedang tujumu seseingkat cerpen selembar dalam polio bergaris itu. 

"Barangkali Kau Serdadu Itu"

Menceritakanmu selayaknya hujan, tiada terbilang sederas rintiknya.  Ada harum basah yang tak tersuarakan, serupa raup rindu tak bercelah.  ...