22 Mei 2023

Rindu Separuh yang Akan Kupahat Kembali Utuh

Begitu merajaikah dirimu dalam samudera rasaku, sebab kerap tak lagi kudapatkan kata serta bait yang harus kutulis dalam sajak

Ada banyak kata usang yang tak dapat kembali kuperbaharui, sebegitu melekat padamu, pada rindu yang kini kau bawa pulang

Hilang, lepas, asing, teruntuk rindu yang kau bawa pulang

Kini terasa begitu usang di pandang jarak luas membentang, begitu lekatkah rindu ini padamu, hingga lupa bagaimana bisa aku kembali tegap jikalau langkahmu pergi menjauh 

Rasanya masih membayang, sayup-sayup di kejauhan punggungmu menghilang. Bak mimpi yang tak pernah kupejamkan, begitu sesak menyeruak penuhi ruas dadaku 

Nyatanya tak ada lagi dapat diimpikan dari sekedar janji sore itu, hilang kau bawa pulang. lenyap disapu angin malam kelabu. 

Kini kau tak lagi menjadi lelaki dalam pelukan, meninggalkanku adalah keputusan terkuatmu sekaligus menyadarkanku bahwa yang diimpikan tak selamanya bisa tergapai, kembali membawa sampanku adalah keputusanku mengimbangimu. Mari kita putuskan, saling berpaling dan berjauhan. Kau dengan mimpi baru mu, sedang aku dengan rindu separuh yang akan kupahat kembali utuh. 

21 Mei 2023

Kembali Kueja Doaku Tanpa Kembali Kusematkan Namamu

Rasanya sudah hampir menyerah,

mengayunkan harap kerap menyayat-nyayat dinding pertahanan terkuatku. 

kembali mengeja kisah kita rasanya begitu memilukan, mengutuk diriku menjadi selemah ini. 

kembali melupakanmu dan hanya memenjarakanmu dalam ingatan bukanlah hal tepat yang dapat kupilih

semakin kerap kau datang, meski sekedar singgah hanya membuat luka-luka membasah ..

rasanya sudah hampir menyerah...

doa mana yang dapat kusesalkan, selagi kau masih berkutat dalam ingatan 

rasanya sudah hampir menyerah, 

mengurung luka lama dengan setangkai harap dari sekedar rasa sesal pun nampaknya hanya menyebarkan virus baru. 

kali ini, hampir dapat kuikhlaskan meski tak sepenuhnya dapat kuhapuskan

sehari, dua hari, dan seterusnya.. 

akan selalu kupastikan rasaku, lukaku, akan kukeringkan dengan caraku.. 

rasanya, kata terucap "biarkanlah kau abadi dalam lautan ingatanku" bukanlah kata tepat yang harus kueja dan kusematkan kembali untukmu. 

sebab, menjadikan kau terus berlayar dalam ingatan nampaknya semakin membuatku semakin tenggelam ke palung rindu. 

bukankah tidak adil rasanya, jika hanya aku saja !

jadi sebaiknya akan kuulang doaku tanpa mengeja kembali namamu.  

"Barangkali Kau Serdadu Itu"

Menceritakanmu selayaknya hujan, tiada terbilang sederas rintiknya.  Ada harum basah yang tak tersuarakan, serupa raup rindu tak bercelah.  ...