Kulihat nama cantik itu hampir mirip dengan hujan, aku kembali mengenalinya melalui masa, kata, dan ingatan.
Nama yang cantik, secantik orangnya.
Sekiranya rasa tak pernah salah menerka ingatan, meraba-raba kenangan.
Sepertinya ada yang tak selesai, lajuku, percayaku, yakinku, atasmu.
Hingga saat ini kutemukan lagi, salah kesekian yang semenjak dulu tak kau sadar.
Sepertinya kau begitu membenci, begitu memojokkan yang mana hanyalah salah yang kerap kulontarkan.
Atau kau, kerap tertawa dengan nada mengejek atas lisanku yang kerap salah bicara.
Atau kata-kata manisku yang kerap kujadikan topeng pembual menurutmu.
Ah, mari saling memutar pikir.
Cukuplah saja, dan semoga daun yang jatuh tak pernah membenci angin.
"Maaf bilamana aku menyukai hujan, sama halnya seperti kau menyukainya"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Part 2
Hari ini hari ke 2 setelah perpisahan itu.. Rasanya masih sembab saja mataku, begitu memalukan ya.. Wanita sepertiku nampaknya sangat tak c...
-
Sudah kutegaskan rupanya masih saja kau tanyakan, mengagumi bukanlah perkara ringan. Menyita banyak hal, melengkungkan tekat seluas buana. S...
-
Hey apa kabar? Lama tak sua senja, baikkah dirimu? Masihkah ingat denganku? Ahh.. Semoga kau selalu baik baik saja. Mungkin bisa kucerita s...
-
Kerap kusinggahkan sampanku, kupautkan ujungnya di bibir-bibir dermaga itu. Dengan kerap harap, dapat kupautkan jua rinduku, bahkan janji...
-
Malam ini, Dapatkah kuukir rasa yang paling teduh? Kembali kutautkan memori tentangmu, Membangun kembali Bayang-bayang lirih senyum di bal...
-
Hari berlalu, mengiring jalan berdebu rasa di ujung jalan itu terlalu engap kukisahkan, terlalu sesak jika harus kubagikan, kiranya sudah c...
-
Begitu merajaikah dirimu dalam samudera rasaku, sebab kerap tak lagi kudapatkan kata serta bait yang harus kutulis dalam sajak Ada banyak ka...
-
Kiranya, memujamu adalah ayal yang takkan dapat tergapai memulangkan asa pada luka luka tak berujung menyumbang banyak keliru kala rindu me...
-
Nampaknya, kita terus berpaut. seperti nyala lilin di tengah badai kerap berbisik melalui angin, menghempas yang tak tergapai, membawa kenan...
-
Hai, sepasang mata paling tenang, memandangimu adalah keharusan merasuk dalam matamu adalah tujuan, terselip hangat serupa peluk tak luput g...
-
Setelah kepergianmu cahaya kecil itu memudar serta berpindah arah pada pusaramu. Kini, tak lagi kutemukan cahaya itu pada siang, pada ma...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar