16 Jul 2026

Part 3

Hai lelaki teduh Saujanaku... 

Apa kabarmu? Baik ya tentunya. Rasanya ngiang senyum hangatmu di pelupuk mataku. 

Saujana, hari ini adalah hari kesekian jarak bergulung-gulung. "Nampaknya kau sudah hampir lupa denganku."

"Syukurlah kalau begitu, jadi rasanya tak ada lagi alasanku untuk tetap bermimpi akan hal baik bersamamu"

Tapi mohon izinkan aku mengatakan sedikit resahku agar dapat kulepas lukaku agar ikhlasku penuhi ruas dadaku. 

Beribu kali pun rasanya tak mampu aku membencimu, walau kutahu benci adalah satu alasan pasti yang kutahu dapat melepasmu. 

Sakit ya, sakit sekali rasanya. "Bagaimana rasanya rindu sepihak? Begitulah kiranya. 

Aku tahu tak sepenuhnya salahmu, tapi bisakah aku tanyakan ini pada Tuhanku, mengapa ia menghadirkanmu hanya untuk membuatku runtuh, rasanya bak mimpi, datang seolah pelangi hilang dikungkung sepi. 

Jahat sekali rasanya, bukan kau tapi keadaan ini, kenapa rasanya hati masih tak dapat bersabar sedikit lagi, runtuh jiwaku, sakit badanku, kosong pikirku, hilang separuh aku. 

Jahat sekali rasanya, kenapa harus aku? Apa ada salahku? Tiba sesukamu, pergipun semaumu. Apa salahku?? Tolong jawab aku! 

Jika pada akhirnya kau tak dapat meyakini hatimu, lalu mengapa harus melibatkan aku? 

Hampir tak bersela rasanya terus berputar tanya di kepala, apa salahku? Kenapa harus aku? Sampai nyatanya kau cipta luka utukku? 

Apa ini yang kerap kau ceritakan, ingin memberikan sebuah hadiah kenang-kenangan? Ya benar kenang-kenangan, terus terkenang lukanya, perihnya hingga akhirnya kau semakin jauh di sebrang sana. 

Lantas harus apa aku? Hampir habis dayaku, begitu keras kupaksa sembuh sedang kau bertengger manis di kepalaku. Jahat ya.. 

Dahulu aku kira aku begitu dicintai, tapi sialnya kau hanya suka dengan caraku mencintaimu. Kau tak benar mencintaiku, kau hanya sedang mencari mata agar dirimu nampak terlihat istimewa. 

Sungguh benarkah itu???? 

Lantas harus apa aku? Sesak rasanya pelan kau bunuh rasaku, tapi lupa bahwa ragaku masih terus menginginkanmu. 

Kenapa tak kau bunuh saja aku, kenapa harus rasaku? Bukankah sudah hampir kau bunuh keduanya. 

Harus berapa kali aku meminta maaf padamu, agar rasanya ikhlasku melepasmu kuterima dengan akalku. 

Harus apa aku? 

Tak lagi berdayaku, hidup kosong. Ingin hilang tapi lupa jika aku harus memaksa baik-baik saja. 


Tidak ada komentar:

Part 3

Hai lelaki teduh Saujanaku...  Apa kabarmu? Baik ya tentunya. Rasanya ngiang senyum hangatmu di pelupuk mataku.  Saujana, hari ini adalah ha...