Kali ini aku tak memaksamu untuk tetap tinggal, apalagi sekadar merengek memksa kabar. Dengan itu bukan berarti aku melepaskanmu, mohon izinkan aku menahanmu walau hanya dalam diksiku.
Ragamu memang tak dapat kudekap, senyummu memang tak dapat kukerat, namun kau nyata ada dalam doa. Sebelum sampai di titik ini rasanya hadirmu bak mimpi, indah sekali ... Sangat sangat indah sekali. Hampir rasanya aku lupa bangun pagi, ingin selalu memimpikanmu meski waktu terus mengajakku berkelahi.
Aku pikir aku bisa lebih lama membersamaimu, namun nyatanya mimpi hanyalah sekadar mimpi yang keesokan paginya aku harus kembali dengan harap esoknya kembali bermimpi.
Tak ada yang pasti memang, apalah arti dari sekadar rasa, aku tak punya apa, apalagi menjanjikanmu lebih banyak kuasa, aku hanya punya senampan rasa yang ketika memikulnya rindunya buatku tak berdaya. Aku tahu ini mimpi, sekali lagi ini hanyalah mimpi yang tak dapat kubeli.
Terima kasih sudah pernah hadir meski dapat dikata dalam jengkal hari. Tak apa, ini cukup buatku kembali menata rasa.
Tak apa jika harus kembali kutata ulang, kurapihkan serpihannya, kugenggam erat kecewanya, tak apa aku baik baik saja, akan lembut kutelan kecewa, tak kulibatkan sesiapa aku bisa.
Terima kasih sudah pernah memberi rasa meski kiranya hanya sekarat saja, aku tahu tak sepenuhnya, apalagi semuanya. Tapi cukup untuk kuyakini kau ada.
Di pertemuan secepat ini, rasanya rindunya makin berkarat, menumpahkannya aku berat.
Aku tak ingin menyalahkan sesiapa, tak pula ingin membenci sesiapa, apalagi muak pada rasa. Dewasa saja, hadirmu adalah keistimewaan tapi kutahu aku tak berdaya.
Hari itu, tak dapat lagi aku menahanmu apalagi sekadar memintamu untuk tetap tinggal, tak cukup dayaku, tak cukup rasaku membelimu, separuhpun tak mampu apalagi seluruhnya.
Dunia memang tak seramah itu padaku, tapi aku tahu sekelibat hadirmu pun rasanya cukup buatku candu, entah hanya aku atau kau juga sama seeprtiku? Aku tak tahu.. Tapi sejak hari itu aku terima putusanmu, hancur padaku namun izinkan aku abadikanmu di aksaraku, menorehkan kembali rinduku, meski memlelukmu hanya bayang semu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar