26 Jun 2026

Tenggelamkan aku di jiwamu, lebur aku padamu hingga tak lagi aku menyebalkanmu

Pagi ini terik pelan menelisik hangat pada celah dinding rumah lawas itu. Secercah cahayanya begitu indah, semburatkan hangat mengenai mata. 

Kulihat luar jendela, langit membiru tak bertabur awan, hanya sedikit memudar meninggalkan jejak pelan-pelan. 

Kring ... Dering alaramku berbunyi, memastikan aku bangun tepat waktu. Namun sialnya masih saja aku bangun lebih dulu. 

Pelan kutarik gawaiku, kubuka satu-satu  jejakmu di kolom berandaku, ku lihat-lihat adakah pesan manis darimu? Atau sekedar notif hati fitur itu. 

Nampaknya tak ada, eh .. sepertinya belum ada, atau mungkin belum bisa. Ah sudahlah, sialnya lagi-lagi aku begitu menantikannya. 

Bagaimana bisa hampir penuh aku kau tarik ke duaniamu, bukan sekarat, bukan berparuh, tapi sudah tenggelam aku di dasar matamu. 

Rasanya nafasku mengecil, bukan karna tekanannya tapi sungguh karna rindunya. Ah ... Aku lagi, entah kau? Entah samakah kita? 

Kadang menatapmu ragu, bahkan juga masih keliru. Acapkali aku berpura tak apa, sungguh takut aku jika tak lagi dapat melihat, menatap dalam pasang mata kesukaanku. 

Ah lagi lagi nampaknya hanya aku? Bagaimana kau? Sepertinya hanya aku :(

Ah memang aku, jikalau perkara mencintai, menyukai, menyayangi, pasti saja gak main-main.

Tapi tak apa lah ya, jika aku masih bisa akan kupastikan rasaku bertaut padamu, mungkin sampai kau persilakan aku untuk pergi jauh meninggalkanmu. 

Ah .. tak terasa langit makin membiru, terik makin meninggi lalu aku masih membaring lesu membayang sungging senyummu. 

Sedang apa kau di sana? Baik saja bukan? Jaga sehat keselamatanmu. Aku tahu jika doaku tak lekas menembus waktu, tapi harapku semoga Tuhan mempersilakan doaku sampai padamu dan bahkan selalu doaku menyertaimu setiap hembu nafasku. 

Rasanya sungguh aku jatuh padamu, memeluk ragamu mungkin aku tak mampu namun izinkan aku memelukmu dalam doa-doaku. 

Maaf, bilamana aku terlalu kekanak-kanakan. Begitu kerap menyita waktumu, menunggu-nunggu pesan itu, bahkan terlalu menyebalkan. Bukan maksudku, tapi sungguh aku jatuh padamu, tersita seluruh aku hingga rasanya ingin kubersamamu selalu, di sepanjang waktu. 

Ahh egoisnya aku? Kekanak-kanakan pula. Hmmm.. maafkan aku. Sungguh tak sampai dayaku atas sikapku. 

Tapi asal kau tahu, rasanya ingin aku melebur habis di jiwamu. Biar tak lagi aku menyebalkanmu.  

Tidak ada komentar:

Part 2

Hari ini hari ke 2 setelah perpisahan itu..  Rasanya masih sembab saja mataku, begitu memalukan ya.. Wanita sepertiku nampaknya sangat tak c...