Dahulu aku begitu menyukai senja, melihatnya saja rasanya ingin berlama-lama.
Tapi setelah hari itu, aku tak lagi menyukainya. Bukan karna senja mengecewakan, bukan pula karna bosan. Tapi karna kutahu di waktu senja adalah penutup perjumpaan.
Bukan tanpa alasan, kenapa sekarang aku begitu khawatir kala senja mulai datang, bukan karna waktuku sia-sia. Tapi karna malam menelanku perlahan di kesepian.
Bagaimana bisa raga yang begitu kantuk harus melawan bayang-bayang di kepalaku.
Ah... Malamku terlalu lamban dan rasanya ingin bangun lebih awal. Membuka mata, mengingat-ngingat kata demi kata percakapan. Terbayang senyummu, sekelibat sungging senyumku di pekat malam.
Bermimpikah aku? Sedang rasanya aku ingin lari ke pelukmu, membenamkan wajahku, menghirup lekat aromamu.
aku begitu rindu ...
Bilakah siang lekas bertandang sedang malam terlalu lamban untukku dapat mengutarakan.
Jagaku bukan tanpa alasan, ini sinyal emosiku yg rasanya tak dapat kugenggam sendirian, aku perlu kau meredakan, meski sedikitnya hanya dengan sapaan.
Ah ..
Lagi-lagi aku penuh hayalan, ingin rasanya waktu kuhabiskan hanya dengan mengingat-ngingat perjumpaan.
Hampir lupa rasanya separuh malam telah kuhabiskan untuk berkisah bagaimana malamku sedikit ketakutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar