Hari lalu berlalu, terasa asing setelah kepergian itu. Rasanya mentari tak terlalu terik bersinar, tak jua ingin luruh hujan. Seperti ragu-ragu nampaknya.
Dari balik jendela yang usang kulihat sepasang burung kecil bertengger di pepohonan, mereka sedang beradu rayu, sedang berbisik bahwa katanya "kita adalah sepasang paling bahagia" Itu sih katanya .. Namun setelah tak lama mereka terbang saling memisah, tak lagi saling beriringan, tak jua saling berkicau berlempar rerayuan.
Rasanya sebentar saja, hanya beberapa kali bercanda, lalu akhirnya terbang memisah tak setujuan yang sama.
Dari Burung aku belajar, bahwa yang katanya paling bahagia, beradu rayu seindah-indahnya seolah mereka pemilik dunia namun nyatanya tak menjanjikan bahwa mereka akan selalu bersama. Bukan tak setia, tapi mungkin tujuannya tak lagi sama.
Tak ada yang dapat disalahkan, apalagi sekadar mencari alasan. Ini kiranya sudah cara kerja semesta agar nantinya mereka memberi ajaran bahwa tak semestinya yang indah harus tetap tinggal. Barangkali perginya adalah cara semesta mengajarkan kebaikan.
Apa setelah yang kulihat ini membuatku ikhlas? Melepas? Atau semakin membuatku sadar bahwa rasanya ingin tetap kugenggam meski yang kugenggam tak lagi ingin bertahan.
Dari kisah Burung, ternyata cara kerja semesta tak pernah memberi aba-aba, kadang sesukanya merakit cerita tak selalu bahagia, ada lirih ada pula luka-luka.
Sama seperti kisah kita, datang tiba-tiba pergi pun hilang seadanya. Tak banyak kata, hanya seuntai pamit samar terdengar dari sebrang sana.
Tak adil saja rasanya, ketika perasaan datang tanpa bertanya lalu menghilang sesukanya. Ini memang biasa rupanya. Yang kutakuti datang juga, sedang kau bertepuk lega nampaknya.
Kenapa tidak kemarin-kemarin saja, keburu-buru menyatakan suka namun sialnya aku jadi umpannya. Setelah dirasa ragu menyambar, kau lepas aku tanpa tahu seberapa lukaku lebar menganga.
Oooo, tapi tenang saja di pengharapan selanjutnya aku tak ingin mendoa dari hal-hal menyakitimu, kudoakan saja biar semesta selalu memihakmu, meneduhimu di kejauhan, sekali menghujanimu dengan beribu kebahagiaan. Tak ingin rasanya melihatmu lara, kembali mendoakanmu adalah cara kerja cintaku paling luas melebihi semesta.
Tak apa jika harus kupinta dunia agar mestinya kau diteduhi bahagia, bukan sekarat, bukan jua setengahnya tapi seluruhnya agar dapat terus kau sungging senyummu meski rasanya lirih batinku.
Mencintaimu adalah keharusan, melukaimu bukanlah sebuah tujuan, sedang melihatmu bahagia adalah ingin paling Aamiin yang terus kuaamiini sampai detik ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar