8 Jul 2026

Ingin kugambar wajahmu seluas Dunia

Ah .. Rasanya kau ngiang di pelupuk mata. Bukan aku meminta, jikapun kupinta aku tak ingin hanya bayangmu saja. 

Lagi-lagi ringan rasanya mengayun jemari menggores tinta, kutatap dalam matamu, kuraba senyummu, basah mataku dan nyatanya ayal saja. 

Kau tak tahu saja, memang aku tak pernah cerita! dari temu sesingkat ini rasanya hampir gila. Melihat semua manusia rasanya bak kau saja. Senyummu, renyah tawamu, lembut tuturmu. Ah rasanya benar gila. 

Tak apalah ya, ini kanvas milikku, ini tintaku sudah kukata jika kau istimewa akan kugambar abadi dalam aksara. 

Hari ini aku tak ingin berpura-pura, aku ingin lebih lama berayal denganmu berdua. Baiknya kurangkai saja satu demi satu membentuk kau dan lengkung senyum keteduhan. 

Sayang ... Rebah aku di pangkumu, nampak jelas senyummu sedikit kuraba lembut bibirmu. "Teduhnya matamu" Biskku lembut. 
Beruntungnya aku, 

"Sayang apa esok masih bisa bersua denganmu? Masih samakah kau? Masih samakah rasamu? Atau hanya aku .. Ah takutnya aku"

"Sayang jika di sela kosong percakapan nanti kita terdiam, dapatkah aku menanyakan pertanyaan berulang seperti : Yang, sayang apa kau menyayangiku? Lagi, lagi dan selalu kutanyakan itu. Sampai akhirnya belum sempat kutanyakan pun sudah kau jawab. Lucu ya yang ... Hee. " Indahnya kala itu. 

"Sayang, apa kau ingin tau kabarku? Oh tentu tidak lagi ya. Tak apa sayang, akan sedikit kukisahkan meski tak lagi menarik untuk kau dengar. Sayang, hari ini hari pertamaku tanpamu sayang, berat sekali rasanya. Makanan kesukaanku rasanya hambar yang, air yg kuminum rasanya pahit yang, rasanya duniaku abu-abu, samar pandangku, pusing kepalaku hampir saja di sebuah toko itu aku terjatuh. Mengemudikan motor saja hampir menabrak pohon, Tapi tak apa yang aku baik-baik saja. Sayang tahukah jika pagi yang biasanya kerap kunantikan, sejak hari itu rasanya gelap bak malam. Hening sayang, tak ada suara kecuali suara tetes air mata"

"Sayang indahkah harimu, tanpaku? Nampaknya indah ya, seindah semburat mentari di fotomu. Syukurlah sayang semesta selalu memihakmu. Semoga di sela jeda sibukmu kau sedikit mengingatku, tak apa hanya ingat saja bahwa kita pernah ada, tapi aku tak memaksamu, biar aku rayu Tuhanku biar dapat kudekap kau dalam peluk doaku."

"Sayang bolehkah kukisah lebih lama lagi? Lebih panjang lagi dari biasanya, dari waktu terburu di sela jam makan siangmu, kali ini aku ingin menahanmu, merebah di pangkumu hanya aku dan tatap teduh milikmu."

"Sayang setelah hari itu tahukah kamu seberapa egoisnya aku bolak-balik menyambangi fotomu, ingin rasanya kugambar penuh isi dunia dengan wajahmu, tapi sayangnya aku hanya punya secarik kertas kebangganku yang kemarin membelinya di toko kelontong pinggir jalan itu. Tapi jangan kecewa sayang, aku akan gambar wajahmu seindah caraku, yang kuyakini tak seoarangpun mampu gambarkan serupa gambaranku."

"Sayang, kenapa sejak hari itu senyummu berat? Kenapa suaramu tak lagi renyah di telingaku? Apa aku ngantuk hingga semua rasa memudar? Ahh barangkali aku mabuk karna semalam aku menangis sejadi-jadinya. Tak apa sayang tak apa, barangkali mataku saja bermasalah, ya ya ya sepertinya mataku bermasalah bahkan rasanya hati dan pikiranku juga terganggu. Apa sebaiknya aku ke dokter saja ya? Atau bagaimana menurutmu sayang? Sayang? Sayang? Kenapa tak ada jawaban? Apa semakin berdenging telingaku sayang? Hingga jawabanmu tak lagi terdengar olehku? Sayang kenapa sehening ini yang? Yang? Sayang? Aku tak lagi melihatmu yang? Apa kau ke belakang sayang? Atau sekadar kau angkat telpon kolegamu? Sayang? Sayang? Tak terdengar jawaban itu. Kau kemana sayang? Kenapa yg kudengar hanya tangisku yang? Kenapa sayang? Kau kemana?" Ah ... Hampir lupa jika sejauh ini aku berhayal saja. 

"Sayang, tak apa jika sejak hari itu tak lagi ingin kau dengar aku, tapi izinkan aku mengucap rasaku, padamu pada keteduhan matamu bahwa aku mencintaimu, demi sebuah rasa aku tak ingin tinggal meski hanya sekarat saja, bawa saja rasaku, kubingkis di saku bajumu agar kau mudah membawanya, lucu bukan? Aku tak pernah main-main atas rasaku apalagi untukmu" Ucapku... 

"Sayang satu hal lagi sebelum kau pergi aku bertanya, setelah ini kukemanakan rinduku? Dapatkah kau jawab itu?"

Ah sayang, kering tangisku berayal kamu... 








Tidak ada komentar:

Part 2

Hari ini hari ke 2 setelah perpisahan itu..  Rasanya masih sembab saja mataku, begitu memalukan ya.. Wanita sepertiku nampaknya sangat tak c...