9 Agu 2026

Sakala Renjana

Aku pernah mengira bahwa rasa akan lenyap terbawa masa, namun sayangnya ia tetap congkak menguasai neraca rasa.

Aku pernah mengira bahwa sakala harsa adalah renjana. Namun, ternyata renjanaku alibi anca nestapa bergelayut dendang "Kamu". 

Lupa aku, sungguh sua kemarin hanyalah alibi rasa agar dapat memperjelas fabula mimpi. Bagaimana bisa kumainkan peran, sedang kau, sedang senyummu serupa senja di ujung langit jingga meneduhiku. 

Frasa mana yg dapat kupahat satu demi satu, melukis riak hati, membawa syahdu renjanaku pada bingkis simpul oleh oleh untukmu? Hampir lupa aku, membingkis yang rindu tanpa mengejakan satu satu aksama congkak rasaku. 

Bukan menemuimu, bukan pula sekadar bertemu kamu, namun keliru renjanaku membawaku pada selaksa rasa tanpa daya, tanpa nyawa, hilang aku, lebur luruh jiwaku hanya sekadar sedikit mengeja frasamu. 

Angkuhnya kau, sembari datang membawa setangkai harap lalu membawanya pulang tanpa tapi. Tanpa sedikit aksama atas renjana yang kau hadirkan. Sekeliru itu bukan fabula mimpiku bermuara padamu? Kau serupa riak, hilang perlahan dibawa "Sunyi".

Lagi lagi aku pernah begitu congkak mengira bahwa sakala renjana yang kau bawa adalah nyata, namun sayangnya hanya bola lepas yang kau lempar jauh mengenaiku "Sakit" Tapi aku menikmatinnya! 

Aku mengira senyum megah serupa senja tengah meneduhiku, namun sayangnya aku hanyalah salah satu dari ribu, juta tokoh lain penyaksi keindahanmu. Kau tak benar benar meneduhiku, kau hanya melebarkan teduhmu hingga ujungnya sedikit meneduhiku. Bukan kau bukan rasamu. Tapi sedikit jinggamu mengenaiku. 

Aku terus mengira bahwa setelah ini aku dapat lupa, oh tentu tidak ya! Semakin jelas kau tengger di pelupuk mataku semakin jelas pula aku tereja frasamu. Tapi tak apa biar kunikmat laju alurnya sampai akhirnya yang harus kusadari adalah :

"Bukan kau, bukan pula sakala renjanamu, bukan pula teduh senyummu. Melainkan rasaku, caraku terburu istimewa mencintaimu, sebelum sempat kau sebut ini bukan untukku, maka sungguh maafkan aku."


Sakala : Nyata Dunia

Renjana : Rindu

Anca : Rintangan

Harsa : Kebahagiaan

Fabula : Sandiwara

Aksama : Ampunan

Frasa : Kumpulan Kata

Congkak : Sombong/angkuh

Riak : Ombak kecil


Tidak ada komentar:

Sakala Renjana

Aku pernah mengira bahwa rasa akan lenyap terbawa masa, namun sayangnya ia tetap congkak menguasai neraca rasa. Aku pernah mengira bahwa sak...